Hasil Kajian IDEAS: Lahan Sawah di Jabodetabek Raya Bakal Hilang dalam Beberapa Dekade ke Depan

Peta lahan sawah di wilayah Jabodetabek Raya yang diperkirakan IDEAS akan hilang dalam beberapa dekade ke depan/scrshtmap.

Artinya, selama lima tahun terakhir, sekitar 26.753 hektar sawah telah hilang, dengan laju konversi mencapai 5,22 persen per tahun.

“Kabupaten Bogor menjadi wilayah yang paling cepat kehilangan lahan sawahnya, dengan tingkat konversi mencapai 6,38 persen per tahun, setara dengan hilangnya 2.591 hektar sawah setiap tahunnya. Jika pola ini terus berlanjut, maka lahan sawah di Bogor bisa punah pada tahun 2037,” papar Sri Mulyani.

Cianjur pun menghadapi situasi serupa, dengan kehilangan 2.762 hektar sawah per tahun, yang berpotensi membuat seluruh sawah di wilayah ini habis pada tahun 2044.

Sementara itu, di koridor barat Jakarta, yang mencakup Tangerang Selatan, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kota Serang, Kabupaten Serang, dan Cilegon, luas lahan sawah juga terus menyusut.

Pada tahun 2019, kawasan ini masih memiliki 100.398 hektar sawah, namun pada tahun 2024 hanya tersisa 79.673 hektar. Dalam lima tahun terakhir, sekitar 20.725 hektar sawah telah hilang, dengan tingkat konversi rata-rata mencapai 4,52 persen per tahun.

“Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Serang mengalami laju konversi sawah yang cukup tinggi, yakni 3,73 persen per tahun. Jika tren ini terus berlanjut, maka lahan sawah di Tangerang dan Serang diperkirakan akan habis pada tahun 2048,” ujar Sri Mulyani.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan urbanisasi terhadap lahan pertanian semakin besar. Jika tidak ada kebijakan tegas untuk melindungi lahan sawah, maka dalam beberapa dekade ke depan, kawasan-kawasan yang dahulu menjadi lumbung pangan di sekitar Jakarta akan kehilangan fungsi pertaniannya.

“Dampaknya bukan hanya bagi petani yang kehilangan mata pencaharian, tetapi juga terhadap ketahanan pangan nasional yang semakin rentan. Hal ini menjelaskan mengapa luas lahan panen padi nasional konsisten menurun dalam 6 tahun terakhir,” tutur Sri.

Pada 2018, luas lahan panen padi nasional masih mencapai 11,38 juta hektar, tetapi pada 2023 angka ini telah menyusut menjadi hanya 10,21 juta hektar. Akibatnya, produksi beras nasional pun terus melemah, dari 33,9 juta ton pada 2018 menjadi hanya 30,9 juta ton pada 2023.

Penurunan produksi dalam negeri ini menyebabkan lonjakan impor beras yang semakin besar, dari 3,06 juta ton pada 2023 menjadi 4,52 juta ton pada 2024.

“Dengan semakin berkurangnya lahan sawah, Indonesia semakin kehilangan kendali atas produksi pangannya sendiri, yang pada akhirnya melemahkan kedaulatan pangan dan mengancam keberlanjutan budaya pangan nasional,” tutup Sri Mulyani.[zul]