Melalui kegiatan berkebun ini, sang pangeran tidak hanya menciptakan keindahan di lingkungan sekitarnya, tetapi juga memperkenalkan bibit anggrek yang kemudian menyebar luas di kalangan pecinta tanaman di Bandung.
Keahliannya dalam merawat tanaman mendapat pujian dari berbagai kalangan, bahkan pejabat tinggi Hindia Belanda turut mengapresiasi kehadirannya dengan menyediakan hunian layak.
Selain aktif di dunia berkebun, Paribatra kerap melakukan perjalanan wisata ke berbagai kota di Jawa, Sumatera, dan Bali.
Jejak langkahnya selalu menjadi sorotan media, sehingga kehidupan sang pangeran menjadi inspirasi sekaligus pelajaran tentang bagaimana nasib bisa berubah drastis dalam sekejap.
Meskipun hidupnya pernah berada di puncak kemewahan, Paribatra memilih untuk menikmati ketenangan Bandung sebagai pensiunan yang tetap mengabdi kepada alam.
Perjalanan hidupnya pun mencapai akhir pada 18 Januari 1944, sebelum jenazahnya dipulangkan ke tanah kelahiran untuk dikremasi di Istana Raja Bangkok pada tahun 1948.[dit]
**











