“Kita harus menghindari over tourism. Jangan sampai tujuan konservasi hilang karena wisata yang tidak terkendali,” tegasnya.
Di bidang teknologi, dirinya mendorong Perhutani untuk memanfaatkan sistem pemantauan berbasis satelit guna mencegah pengurangan kawasan hutan secara ilegal.
Ia mencontohkan penerapan teknologi serupa di Tiongkok yang sudah mampu mengukur pertumbuhan tanaman secara berkala.
Selain itu, pada kesempatan yang sama, Adisatrya menilai SDM Perhutani masih perlu ditingkatkan, terutama dalam hal pemahaman terhadap teknologi digital, inovasi bisnis berbasis lingkungan, serta konsep keberlanjutan (sustainability).
“Gap kompetensi antara generasi manajemen lama dengan kebutuhan industri modern harus diatasi. SDM harus terus diperkuat melalui pelatihan,” ujarnya.
Komisi VI, sebutnya, juga menyoroti perlunya diversifikasi usaha Perhutani ke sektor non-kayu seperti jasa lingkungan, perdagangan karbon, dan agroforestri.
Oleh karena itu, ia menegaskan, Perhutani harus lebih adaptif terhadap dinamika regulasi dan fleksibel dalam menjawab tantangan bisnis kehutanan saat ini.
“Kami berharap Perhutani menunjukkan komitmen nyata terhadap profesionalisme, efisiensi operasional, inovasi bisnis, dan peningkatan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan,” pungkasnya.[zul]











