Namun demikian, dia juga mengapresiasi beberapa kinerja Bolog di antaranya adalah pengelolaan stok beras nasional, penyaluran bantuan pangan hampir 2 juta ton, operasi pasar sebanyak 520.000 ton, serta peningkatan pendapatan usaha hingga Rp43,05 triliun.
Selain itu, program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dijalankan Bulog telah berkontribusi terhadap pengendalian inflasi pangan, meskipun penyebarannya dinilai masih perlu dioptimalkan di wilayah-wilayah yang rentan lonjakan harga.
Walaupun begitu, Eko tetap mendorong Perum Bulog untuk mempercepat transformasi di sektor logistik dan distribusi pangan guna memperkuat ketahanan pangan nasional.
Menutup pernyataannya, Eko mengingatkan capaian tersebut masih dibayang-bayangi oleh keterbatasan logistik dan distribusi, serta belum meratanya pelaksanaan program stabilisasi harga di daerah-daerah rentan.
Oleh karena itu, ia mengingatkan evaluasi terkait isu ini diperkuat yang disesuaikan dengan wilayah penyebaran program.
“Evaluasi berbasis wilayah perlu diperkuat agar penyebaran program seperti SPHP bisa lebih tepat sasaran dan berdampak pada pengendalian inflasi pangan secara nasional,” tandas Eko.[zul]











