Di era investasi modern, aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) menjadi barometer utama bagi para investor global. Perusahaan dengan skor ESG yang baik dianggap lebih berkelanjutan
dan memiliki risiko lebih rendah. Sayangnya, untuk memenuhi standar lingkungan dalam ESG, pelaku usaha tambang harus berinvestasi pada teknologi mahal seperti hybrid haul truck atau conveyor belt bertenaga listrik. Anggawira dari Aspebindo menegaskan bahwa insentif seperti subsidi untuk elektrifikasi atau akses kredit hijau akan mempercepat transisi ini tanpa mengorbankan bisnis.
Selain insentif finansial, dorongan regulasi juga diperlukan. Pengamat ekonomi energi dari UGM, Fahmy Radhi, menyoroti pentingnya pemberlakuan kewajiban penggunaan kendaraan berstandar emisi Euro 4 di seluruh operasional tambang.
Aturan ini akan menciptakan standar yang jelas bagi industri. Banyak kendaraan tambang saat ini bahkan ditengarai masih menggunakan BBM subsidi, yang menunjukkan betapa mendesaknya intervensi pemerintah untuk memastikan sektor vital ini berjalan seiring dengan komitmen Indonesia menuju net zero emission.[dit]











