BNPB: Sejumlah Wilayah Indonesia Dilanda Banjir dan Angin Kencang, Warga Diminta Siaga

Pohon tumbang karena angin kencang/scsht net

Masih di Pulau Jawa, banjir juga terjadi di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, pada hari yang sama. Hujan lebat yang mengguyur daerah tersebut menyebabkan empat kecamatan terdampak, yaitu Geyer, Tanggungharjo, Tegowanu, dan Kedungjati.

Sebanyak 25 unit rumah warga dilaporkan terendam, dengan ketinggian air antara 30–60 cm. BPBD Grobogan telah melakukan penanganan darurat berupa pendistribusian bantuan logistik dan pengecekan kondisi lingkungan. Berdasarkan pantauan di lapangan, genangan air mulai surut dan aktivitas warga berangsur normal.

Peristiwa banjir berikutnya terjadi di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, pada Selasa (21/10). Luapan anak Sungai Kawangwaru menyebabkan permukiman di Desa Karangwaru, Kecamatan Plupuh, terendam air. Sebanyak 26 rumah dan satu fasilitas pendidikan terdampak.

Petugas BPBD bersama relawan telah menyalurkan bantuan darurat serta melakukan pemantauan debit air sungai. Hingga Rabu pagi, air dilaporkan surut dan warga mulai membersihkan lingkungan dari material lumpur yang terbawa arus.

Menanggapi serangkaian kejadian tersebut, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D., mengimbau seluruh masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, baik yang bersifat basah (banjir, angin kencang) maupun kering (kekeringan, kebakaran hutan dan lahan).

BNPB meminta warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai atau lereng perbukitan agar terus memantau kondisi lingkungan dan mewaspadai hujan berintensitas tinggi dengan durasi lama. Bila debit air meningkat signifikan, masyarakat diimbau melakukan evakuasi mandiri ke tempat yang lebih aman dan mengikuti jalur evakuasi yang telah disiapkan pemerintah daerah.

Selain itu, warga disarankan untuk memperbarui informasi cuaca dan peringatan dini melalui lembaga resmi seperti BMKG dan BNPB, guna mengantisipasi potensi risiko bencana.

Abdul Muhari menegaskan, kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci penting dalam mengurangi dampak bencana. “Kita tidak bisa menghindari bencana, tetapi kita bisa mengurangi risikonya dengan meningkatkan kewaspadaan, memperkuat koordinasi, dan memperhatikan peringatan dini dari pemerintah,” ujarnya.[zul]

 

Exit mobile version