“Sekilas mungkin sepele, tapi itu memengaruhi citra negara tamu… Malaysia bisa dianggap abai dan ceroboh, atau mungkin tidak menghargai tamu delegasi yang datang,” ujar Faruq, Sabtu (1/11/2025). Master Candidate dari The University of Queensland ini juga menyoroti betapa mudahnya RTM seharusnya bisa memverifikasi informasi tersebut. “Tinggal googling saja,” tambahnya.
Faruq mengingatkan bahwa ini bukan kali pertama Malaysia melakukan kesalahan yang ‘menyenggol’ sensitivitas Indonesia dalam acara resmi. Ia merujuk pada insiden bendera Indonesia yang dicetak terbalik menjadi bendera Polandia saat SEA Games 2017 di Malaysia. “Dulu tahun 2017… pernah melakukan yang lebih parah… Lebih ribut dari ini waktu itu,” jelasnya.
Meski begitu, Faruq memprediksi insiden RTM kali ini tidak akan memicu ketegangan serius antar kedua negara. Belajar dari kasus sebelumnya yang berakhir damai setelah Indonesia memilih memaafkan, ia yakin hubungan Indonesia-Malaysia akan tetap harmonis dan riak kecil ini tidak akan membesar.[dit]
