Lahirnya InfraNexia memungkinkan perusahaan ini lebih fokus dalam mengembangkan bisnis fiber, sekaligus meningkatkan efisiensi biaya operasional dan investasi. Strategi ini juga membuka peluang besar untuk network sharing dan kemitraan strategis, yang pada akhirnya akan menciptakan nilai tambah optimal bagi semua pemangku kepentingan. Dalam fase spin-off pertama, InfraNexia akan menguasai lebih dari 50% total infrastruktur jaringan fiber Telkom, meliputi segmen access, aggregation, dan backbone. Fase kedua ditargetkan tuntas pada tahun 2026 dengan total nilai aset mencapai Rp90 triliun.
Mandat Pemerintah untuk PDNS
Selain persetujuan spin-off, RUPSLB juga menyetujui penugasan pemerintah kepada Telkom untuk mengoperasikan dan menjaga layanan Pusat Data Nasional Sementara (PDNS). Penugasan ini akan berlangsung selama periode transisi hingga Pusat Data Nasional (PDN) pemerintah beroperasi penuh, menunjukkan kepercayaan pemerintah terhadap kompetensi Telkom sebagai pemain utama di sektor data center dan cloud. Telkom berkomitmen penuh dalam melaksanakan operasional PDNS demi menyukseskan visi transformasi digital nasional.[dit]









