Bukan Jutaan, Satu Tahun Prabowo Lapangan Kerja Riil Hanya Bertambah 110 Ribu

Presiden Prabowo Subianto/Dok. BPMI Setpres.

Dengan kata lain, dari jutaan pekerjaan yang diklaim tercipta, hampir seluruhnya hanya habis untuk menyerap tambahan orang yang masuk ke pasar kerja. Tidak ada ekspansi besar, hanya keseimbangan yang dipertahankan dengan susah payah.

Indikator peluang kerja memperlihatkan hal yang sama. Pada Agustus 2024 peluang kerja berada di sekitar 95,09 persen. Lebih dari satu tahun kemudian, pada November 2025, peluang kerja hanya naik menjadi sekitar 95,26 persen.

Kenaikan sekitar 0,17 persen dalam periode sepanjang itu menunjukkan bahwa secara struktural peluang seseorang untuk mendapatkan pekerjaan hampir tidak berubah. Tidak ada lonjakan kesempatan kerja, tidak ada pelonggaran kompetisi di pasar tenaga kerja. Statistik bergerak, tetapi realitasnya tetap sama.

Di sinilah perbedaan antara komunikasi politik dan analisis ekonomi menjadi sangat jelas. Pemerintah menggunakan angka “lapangan kerja baru” karena mudah dipahami dan terdengar positif.

Namun indikator yang lebih relevan adalah apakah kesempatan kerja benar-benar bertambah dibanding jumlah orang yang mencarinya.

Ketika tambahan lapangan kerja hampir sepenuhnya diimbangi oleh tambahan angkatan kerja, maka yang terjadi bukan keberhasilan besar, melainkan sekadar pencegahan agar kondisi tidak memburuk.

Inilah akar dari paradoks yang sering muncul di ruang publik. Pemerintah berbicara tentang keberhasilan penciptaan lapangan kerja, sementara masyarakat merasakan persaingan yang semakin ketat.

Kedua hal ini bisa terjadi bersamaan karena yang meningkat adalah jumlah orang yang bekerja, bukan ketersediaan kesempatan kerja relatif terhadap jumlah pencari kerja. Ekonomi bergerak, tetapi tidak cukup cepat untuk menciptakan kelonggaran di pasar tenaga kerja.

Masalahnya bukan pada data BPS atau pada angka yang disampaikan pemerintah. Data tersebut benar. Yang bermasalah adalah narasi yang dibangun di atasnya.

Ketika angka penciptaan lapangan kerja dipisahkan dari pertumbuhan angkatan kerja, publik diberi gambaran yang tidak lengkap.

Klaim jutaan lapangan kerja tercipta menjadi terdengar seperti pencapaian besar, padahal yang terjadi kinerja pemerintah hanya sekadar mampu mencegah agar tingkat pengangguran tidak naik.

Dalam ekonomi yang benar-benar kuat, penciptaan kerja akan menghasilkan surplus kesempatan kerja yang terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Data 2024-2025 menunjukkan hal sebaliknya.

Penambahan pekerjaan terjadi, tetapi nyaris seluruhnya terserap oleh tambahan angkatan kerja baru. Tidak ada lonjakan kesempatan kerja, tidak ada perubahan struktur pasar tenaga kerja yang signifikan.

Karena itu, persoalan sebenarnya bukan apakah angka 3,59 juta atau 1,37 juta itu benar, melainkan apa yang sengaja tidak dijelaskan di balik angka tersebut.

Ketika angka dipakai sebagai alat pembentuk persepsi keberhasilan, bukan alat membaca kondisi ekonomi secara utuh, maka jarak antara statistik resmi dan pengalaman nyata masyarakat akan terus melebar.

Exit mobile version