“Kita mengenal Khadijah binti Khuwailid sebagai pengusaha yang mandiri, sekaligus mitra intelektual dan moral Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Kita mengenal Aisyah binti Abu Bakar sebagai periwayat hadis dan rujukan keilmuan yang menjadi sumber pengetahuan umat hingga hari ini,” tutur Megawati.
“Kita mengenal Ummu Salamah yang pemikirannya didengar dalam pengambilan keputusan penting umat Islam. Kita juga mengenal Nusaibah binti Ka‘ab yang menunjukkan keberanian dan keteguhan dalam menjaga komunitas Muslim pada masa awal Islam,” sambung dia.
Bagi Megawati, Islam tidak pernah memosisikan perempuan sebagi pihak yang harus disingkirkan. Justru, kata dia, perempuan mendapatkan terhormat dalam Islam.
“Perempuan hadir sebagai penjaga nilai, penopang moral dan keadilan, dan penggerak peradaban,” kata Megawati.
Dalam orasi ilmiah itu, Megawati juga menceritakan pengalaman panjangnya di politik mulai dari anggota DPR, Ketua Umum PDIP, wakil presiden hingga presiden. Megawati menekankan soal dirinya merupakan presiden perempuan pertama di Indonesia.
“Hingga saat ini, saya juga memimpin Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Sebuah lembaga kenegaraan yang bertugas menguatkan dasar negara dan ideologi bangsa kami, yakni Pancasila. Sekaligus memimpin Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), tempat para ilmuwan terbaik kami melakukan riset dan inovasi nasional. Dua lembaga kenegaraan tersebut menjadi bagian dari pemerintahan Republik Indonesia,” beber dia.
Dari pengalaman tersebut, Megawati mengatakan ada satu pelajaran jelas yang diambilnya yaitu pemerintahan yang adil dan efektif tidak dapat dibangun dengan mengecualikan perempuan.
“Justru sebaliknya, kualitas pemerintahan sangat ditentukan oleh sejauh mana perempuan dilibatkan secara bermakna dalam pengambilan keputusan,” imbuh dia.











