Data ini menjadi latar belakang penting: perkembangan kebun kurma dalam negeri sejatinya memiliki ruang pasar yang besar dan nyata.
Dari sisi kualitas, kurma lokal umumnya dipanen pada tahap ruthob karena iklim lembab. Teksturnya lebih segar, juicy, dengan kandungan vitamin C lebih tinggi dibanding tamr kering. Pakar IPB menyatakan, rasa ruthob lokal setara dengan ruthob Timur Tengah pada tahap yang sama.
Perbedaannya hanya pada proses akhir. Di Arab bisa dibiarkan kering menjadi tamr, di Indonesia harus dinikmati segar agar tidak busuk.
Tantangan tetap ada. Bibit relatif mahal, penyerbukan manual, dan manajemen kelembaban. Namun dengan kultur jaringan dan varietas adaptif seperti Barhee, Ajwa, dan Rinjani, perkembangan kebun kurma di Indonesia menunjukkan arah yang menjanjikan.
So, ketika kita mengintip perkembangan kebun kurma di Indonesia, yang terlihat bukan sekadar pohon berbuah, tetapi transformasi pertanian tropis menuju komoditas bernilai tinggi.
Dari lahan kering hingga gambut, dari pekarangan masjid hingga kebun komersial, kurma Indonesia sedang menulis bab baru, perlahan, tapi pasti.
Jangan pernah meremehkan potensi yang tumbuh di tanah sendiri hanya karena teori lama bilang “tidak mungkin”. Perkembangan kebun kurma di Indonesia mengajarkan, keberanian mencoba, riset yang serius, dan konsistensi petani mampu mengubah keraguan menjadi prestasi.
Bahkan, sampai diakui dunia. Di balik angka impor 55.430 ton senilai Rp1,32 triliun pada 2024 dan rekor 61.350 ton pada 2022, tersembunyi peluang besar untuk mandiri, mengurangi ketergantungan, dan menciptakan kesejahteraan dari pekarangan sendiri.
Artinya, masa depan ekonomi tidak selalu datang dari luar; sering kali ia sudah berakar di tanah kita, menunggu dirawat dengan visi, ilmu, dan keberanian.
Baca Juga: Duh, Ibu..Mau Puasa Kok Korupsi Sih…
Oleh : Rosadi Jamani (Ketua Satupena Kalbar)
Disclaimer : Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.











