“Dengan tidak adanya tanda-tanda de-eskalasi cepat, Selat Hormuz praktis tertutup dan Iran menunjukkan kesediaan untuk menargetkan infrastruktur energi di kawasan tersebut, risiko kenaikan harga tetap ada dan akan semakin besar jika konflik berlangsung lama,” ungkap Sycamore.
Situasi kian genting setelah Garda Revolusi Iran mengklaim telah menutup selat tersebut bagi pelayaran. Hal ini memicu pembatalan proteksi asuransi bagi kapal-kapal tanker, memaksa mereka menghindari jalur tersebut.
Proyeksi Harga: Skenario Ekstrem 150 Dolar AS
Lembaga riset Bernstein telah merevisi proyeksi harga Brent tahun 2026 dari sebelumnya 65 Dolar AS menjadi 80 Dolar AS per barel. Namun, para analis memperingatkan adanya risiko yang lebih fatal jika konflik tidak mereda.
-
Skenario Moderat: Harga bertahan di level tinggi seiring pengalihan rute kapal.
-
Skenario Ekstrem: Jika konflik berkepanjangan dan blokade total terjadi, harga minyak diprediksi bisa meroket hingga ke kisaran 120 – 150 Dolar AS per barel.
Kenaikan ini menjadi alarm bagi negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, yang mulai mewaspadai risiko lonjakan beban subsidi energi dan dampak inflasi domestik.











