Krisis “Panic Buying” di Aceh: Alarm Keras bagi Ketahanan Energi Nasional

“Kesenjangan ini membuat posisi menjadi lebih rentan secara geopolitik dan geoekonomi apabila dihadapkan pada skenario terburuk, misalnya gangguan rantai pasok global atau bahkan blokade,” jelas Ateng.

Digitalisasi vs Realita Lapangan

Di sisi lain, Pertamina Patra Niaga menyatakan bahwa stok di kisaran 21–23 hari adalah level operasional normal. Pertamina juga telah mengandalkan Pertamina Digital Hub untuk memantau pergerakan kapal tanker dan stok SPBU secara real-time.

Namun, Ateng mengingatkan bahwa teknologi digital tidak berdaya melawan kondisi force majeure atau gangguan fisik transportasi maritim jika kapasitas penyimpanan dasarnya memang terbatas.

Tiga Sasaran Strategis ke Depan

Guna mencegah terulangnya kegaduhan serupa, Komisi XII DPR RI mendorong kebijakan strategis yang berorientasi pada ketahanan jangka panjang. Ateng menekankan perlunya pembangunan storage strategis per wilayah, terutama di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) dan daerah rawan bencana.

“Fokusnya ada tiga sasaran, yaitu menambah kapasitas storage BBM nasional, memperkuat resiliensi logistik energi, serta membangun tata kelola stok energi nasional yang lebih disiplin dan terukur,” pungkasnya.