Menjaga Memori Bangsa: Strategi Baru Melindungi Cagar Budaya Indonesia dari Ancaman Bencana

/Dok. BNPB

“Cagar budaya berisiko rusak atau hilang akibat bencana atau perang,” ujar Abdul Muhari.

Belajar dari Luka Sejarah

Catatan kelam kerusakan situs akibat bencana sudah sering terjadi.

Mulai dari kehancuran lebih dari 50 situs budaya saat Tsunami Aceh 2004, hingga kerusakan struktur Candi Borobudur dan Prambanan pada Gempa Yogyakarta 2006. Bahkan yang terbaru, pada November 2025 lalu, banjir dan longsor merusak puluhan situs di Sumatera.

Di Semarang, bangunan kolonial Kota Lama juga terus terancam oleh siklus banjir tahunan.

Namun, Abdul Muhari melihat cagar budaya bukan sekadar objek yang harus diselamatkan, melainkan subjek pembelajaran.

Manuskrip dan artefak kuno sering kali menyimpan catatan tentang pola bencana masa lalu yang bisa menjadi referensi mitigasi masa kini.

Mengadopsi Strategi Global: Belajar dari Jepang

Dalam seminar tersebut, pengalaman Jepang dalam menangani dampak tsunami Tohoku 2011 dijadikan rujukan utama.

Melalui inisiatif seperti Shiryō Net (jaringan penyelamatan dokumen) dan konsep Cultural Properties Doctor, Jepang mampu memulihkan ratusan properti budaya dengan cepat melalui prinsip build back better.

BNPB mengusulkan agar Indonesia melakukan transformasi serupa dengan langkah-langkah konkret:

  • Mitigasi Berbasis Data: Inventarisasi dan pemetaan risiko menggunakan data spasial.

  • Integrasi Teknologi: Memanfaatkan platform InaRISK untuk memantau kerentanan situs secara real-time.

  • Penguatan Struktur: Melakukan renovasi bangunan sejarah dengan standar ketahanan bencana tanpa menghilangkan nilai estetika aslinya.

Dengan pendekatan yang lebih proaktif dan adaptif, diharapkan cagar budaya Indonesia tidak lagi hanya menjadi saksi bisu yang pasrah terhadap alam, melainkan warisan yang tangguh dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.