Saat proposal ini sampai ke meja Donald Trump, penolakan segera terjadi. Trump menolak mentah-mentah karena substansi dokumen tersebut dinilai murni hanya menguntungkan posisi Iran serta merugikan kepentingan Amerika Serikat dan Israel.
Namun, penolakan ini justru mempertegas posisi Iran yang saat ini sedang berada di atas angin; mereka adalah pihak yang menentukan arah negosiasi, bukan lagi didikte oleh Washington.
Kondisi ini diperparah dengan tumpulnya “kartu truf” Amerika di lapangan. Upaya Washington untuk memblokir Selat Hormuz guna mematikan ekspor minyak Iran terbukti gagal total.
Faktanya, saat ini tercatat sekitar 155 hingga 170 juta barel minyak Iran tetap mengapung menuju berbagai negara tujuan. Bahkan dalam dua hari terakhir saja, sebanyak 4,6 juta barel minyak telah diterima oleh konsumen global secara lancar.
Dengan stok amunisi yang kian menipis dan kelelahan militer yang nyata, AS kini terjebak dalam dilema antara gengsi diplomatik dan kenyataan pahit bahwa mereka mulai kehilangan kendali, menyerupai bayang-bayang kekalahan bersejarah di Vietnam dan Afghanistan.[dit]
