-
Air Transat (Kanada): Memangkas 6% jadwal penerbangan periode Mei–Oktober.
-
Lufthansa (Jerman): Berencana menghapus hingga 20.000 penerbangan hingga Oktober mendatang.
-
Air France-KLM (Prancis-Belanda): Melalui anak usahanya, Transavia, memotong 2% kapasitas penerbangan pada Mei dan Juni.
-
AirAsia X (Asia Tenggara): Mengonfirmasi pengurangan frekuensi, meski belum merinci angka pastinya.
-
Ryanair (Irlandia): Mengurangi operasional di Berlin dan memangkas 10% penerbangan dari Dublin.
-
Volotea (Spanyol): Telah mengurangi hampir 1% jadwal penerbangan musim panas sejak awal bulan.
Dampak pada Musim Liburan
Kondisi ini diprediksi akan mencapai puncaknya pada musim liburan musim panas mendatang.
Jika sebelumnya maskapai masih sanggup mempertahankan rute dengan margin tipis, kini mereka terpaksa menutup rute yang dianggap tidak efisien secara ekonomi.
Komisaris Energi Uni Eropa, Dan Jorgensen, memberikan peringatan keras mengenai dampak situasi ini terhadap konsumen luas.
“Sayangnya, sangat mungkin liburan banyak orang akan terpengaruh, baik oleh pembatalan penerbangan atau tiket yang sangat, sangat mahal,” ujar Jorgensen kepada Sky News pekan lalu.
Langkah efisiensi ini menjadi sinyal kuat bahwa krisis energi di Timur Tengah telah bertransformasi menjadi ancaman nyata bagi konektivitas udara global dan daya beli pelancong di seluruh dunia.











