MALANG, FAKTANASIONAL.NET | Disrubsi teknologi informasi membawa dampak perubahan pola hidup dan interaksi manusia. Termasuk memudarnya nilai-nilai luhur budaya bangsa. Manusia dipaksa menjadi individualis. Memuja materialisme dan hidup dengan gaya hedonisme.
Demikian disampaikan Anggota DPD RI Daerah Pemilihan Jawa Timur, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti saat memberikan kuliah umum dengan tema Budaya Spiritual yang diselenggarakan Pirukunan Purwa Ayu Mardi Utama (PAMU) dalam rangka Pendadaran Juru Pitutur se-Jawa Timur yang diselenggarakan di Dau, Malang, Kamis (7/5/2026) malam.
Dikatakan LaNyalla, doktrin falsafah Indonesia melalui Pancasila adalah sebaliknya. Pancasila mengajarkan bahwa manusia Indonesia adalah makhluk sosial. Interaksi dilakukan dengan tepo sliro dan gotong royong. Budaya kita adalah budaya kekeluargaan. Dan nilai dasar kita adalah ketuhanan atau spiritualisme.
“Oleh karena itu, saya berikan apresiasi kepada PAMU yang tetap eksis menjaga akar budaya tradisi dan budaya spiritual yang menjadi bagian tak terpisahkan dari tanah Nusantara ini,” ungkap Ketua DPD RI ke-5 tersebut.
Masih menurutnya, makna kata “Pirukunan” yang menjadi identitas PAMU bukanlah sekedar nama organisasi. Tetapi adalah sebuah mandat untuk hidup dalam harmoni. Pirukunan berarti kita terikat dalam satu rasa, satu tujuan, dan satu nafas kebajikan. Inilah yang membuat PAMU tetap eksis hingga saat ini.
“Apalagi di dalam keluarga besar PAMU, terdapat struktur yang saling menguatkan. Ada Sesepuh sebagai akar penguat. Ada Pinisepuh sebagai penimbang kebijaksanaan. Ada Juru Pitutur sebagai penyambung pesan luhur, dan para Kadang sebagai pelaku di lapangan. Sinergi inilah yang membuat PAMU tetap kokoh,” urainya.
