UI Sebut ‘Halusinasi Statistik’ Data Pertumbuhan Ekonomi

“Data sektoral yang muncul memperlihatkan adanya inkonsistensi internal yang perlu dikaji lebih dalam. Pertumbuhan manufaktur yang tinggi tidak selaras dengan kontraksi sektor energi,” tulis laporan tersebut, dikutip Selasa (12/5-2026).

Atas dasar itu, LPEM FEB UI melakukan estimasi ulang terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026. Hasilnya, pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan hanya berada pada kisaran 4,6 hingga 4,9 persen, lebih rendah dibanding angka resmi pemerintah sebesar 5,61 persen.

Perbedaan hampir satu persen tersebut dinilai cukup signifikan, karena dapat memengaruhi persepsi pasar, investor, hingga arah kebijakan ekonomi nasional
ke depan. LPEM juga menilai, data statistik ekonomi seharusnya menjadi fondasi utama pengambilan keputusan yang akurat dan transparan.

Sebelumnya, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan, bahwa; pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan atau lebih tinggi dibanding kuartal sebelumnya sebesar 5,39 persen. Angka tersebut bahkan melampaui proyeksi sejumlah lembaga ekonomi yang memperkirakan pertumbuhan hanya berada di kisaran 5,40 persen.

Pemerintah menilai, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh konsumsi rumah tangga selama momentum Ramadan dan Idulfitri, peningkatan aktivitas sektor perdagangan, perhotelan, restoran, hingga pertumbuhan transaksi e-commerce dan impor barang konsumsi.

Namun adanya kritik dari LPEM FEB UI, kini memunculkan diskusi baru di kalangan ekonom terkait pentingnya transparansi metodologi statistik nasional di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global, pelemahan daya beli masyarakat, dan ketidakpastian investasi nasional. (PS/FC)