Selain menguliti kebobrokan mental aparat, Prabowo melempar satire tajam mengenai histeria pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Berbeda dengan kepanikan banyak ekonom, Presiden merespons santai dengan menegaskan bahwa rakyat desa tidak menggunakan dolar untuk transaksi sehari-hari.
Baginya, urusan perut rakyat dan harga beras yang stabil jauh lebih esensial dibandingkan memantau pidato Jerome Powell. Pernyataan ini sontak memvalidasi “teori ekonomi warung” yang sangat relevan dengan realitas masyarakat bawah.
Presiden juga secara terbuka mengakui adanya kebocoran dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Alih-alih berlindung di balik tameng hoaks, ia berjanji akan membereskan penyalahgunaan anggaran yang sempat membuat publik figur seperti Deddy Corbuzier kecewa tersebut.
Peresmian museum ini pada akhirnya bukan sekadar monumen, melainkan alarm keras: negara pantang abai, dan rakyat tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian menghadapi kesewenang-wenangan aparat maupun pengusaha nakal.[dit]











