Rusia beberapa hari terakhir ini mendapatkan serangan besar-besaran dari NATO dan AS lewat tangan Ukraina, 550 drone lebih ditembakkan Ukraina ke seluruh wilayah Rusia dengan bantuan AS dan NATO dalam 3 hari terakhir ini.
Kondisi ini memaksa Putin akan melakukan serangan balasan besar besaran ke Ukraina yang sedang berlangsung dan akan berlangsung beberapa hari kedepan.
Eskalasi di Ukraina saat ini sebenarnya cara Trump menekan Putin agar mau ke meja negosiasi, tapi bagi Putin. Perang di Ukraina tidak akan disetop sampai energi NATO dan AS terkuras di Ukraina.
Kunjungan Putin ini akan membuka lembaran baru hubungan diplomatik lebih strategis dengan China, ditengah eskalasi Ukraina dan eskalasi di Iran.
Beijing sendiri saat ini berupaya secara maksimal agar terus bisa profesional dalam menavigasi turbulensi geopolitik yang saat ini sedang terjadi. Baik di eropa timur atau di asia barat.
Kunjungan Trump pekan lalu yang tidak membawa banyak hasil dan kemajuan, akan segera berdampak pada kondisi perang di lapangan saat ini dengan Iran dan Rusia.
Setelah bertempur selama 40 hari dengan Iran, AS saat ini berpeluang kehilangan kendali di Asia Barat terutama akan mengalami penurunan pengaruh secara signifikan di timur tengah.
Dan dengan kunjungan Putin kali ini ke China yang dianggap “historical visit”, ini bisa berdampak pada kemunduran perang di Ukraina bagi AS dan NATO. Karena pada dasarnya, dibawah Trump, NATO dan PBB saat ini sudah jadi yayasan tak berdaya.
Trump dan AS tidak akan sanggup bertahan lama, perang dengan Iran ini dalam hitungan pekan akan segera diakhiri, karena AS dan semua sekutunya diberbagai belahan dunia tidak akan kuat dengan tekanan energi dan ekonomi global.
Dibawah tekanan itulah nanti AS akan menerima kenyataan bahwa Iran tidak bisa dikalahkan, AS mau tidak mau, akan menerima kenyataan, bahwa nuklir Iran dan Uranium Iran yang menjadi alasan utama AS dan Israel melakukan invasi, tidak bisa dilucuti dan perang terhadap Iran gagal total.
Jakarta, 19 Mei 2026










