Perusahaan keripik kentang terkemuka ini terpaksa meluncurkan kemasan darurat berwarna abu-abu untuk 14 lini produknya, menanggalkan warna khas oranye dan kuning andalan mereka.
Usut punya usut, perubahan drastis ini dipicu oleh kelangkaan parah pasokan tinta industri yang jalur distribusinya terdampak langsung oleh konflik Timur Tengah.
Meski anomali industri mulai bermunculan, PM Takaichi memberikan jaminan bahwa stok minyak bumi untuk kebutuhan krusial dalam negeri diproyeksikan akan tetap aman dan terkendali hingga musim semi mendatang berkat diversifikasi impor.
Sebagai bentuk adaptasi kebijakan, pasokan alternatif untuk nafta—produk turunan minyak bumi yang esensial bagi sektor manufaktur—kini dilaporkan telah berangsur pulih hingga 80 persen dengan mendatangkannya dari luar wilayah konflik. Namun demikian, Bank Sentral Jepang (BoJ) tetap bersikap waspada.
Bulan lalu, pihak BoJ telah resmi menaikkan perkiraan inflasi nasional sekaligus memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi. Kenaikan harga minyak mentah dunia yang tak terkendali diprediksi akan terus menekan harga komoditas dalam negeri, memaksa para pelaku usaha untuk membebankan lonjakan ongkos produksi ke dalam harga jual eceran.[dit]











