Dampak Blokade Tiga Bulan Terakhir
Sebagai kilas balik, Iran sempat menerapkan blokade de facto di Selat Hormuz sejak awal Maret lalu.
Kebijakan ketat ini mewajibkan setiap kapal komersial yang melintas untuk mengantongi izin dari Teheran atau menghadapi risiko serangan militer.
Langkah ekstrem Iran tersebut merupakan respons balasan setelah serangan udara gabungan AS dan Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta sejumlah pejabat tinggi negara.
Akibat blokade tersebut, rantai pasok ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah terganggu parah dan sempat memicu lonjakan harga energi global secara ekstrem.
Namun, dalam beberapa hari terakhir, tensi pasar mulai mendingin setelah Trump memutuskan membatalkan rencana serangan udara lanjutan ke Iran demi memberikan ruang bagi meja perundingan.
Meskipun pada pekan lalu harga minyak mentah AS sudah turun lebih dari 8 persen dan Brent melemah di atas 5 persen, secara akumulatif harga minyak dunia sebenarnya masih tercatat naik lebih dari 30 persen sejak konflik bersenjata antara AS, Israel, dan Iran pertama kali pecah pada akhir Februari lalu.
Baca Juga: Ketegangan Memuncak di Selat Hormuz: Negosiasi AS-Iran Buntu, Ancaman Perang Terbuka di Depan Mata











