Daerah  

Gunung Semeru Alami 33 Kali Erupsi, Dampak Hujan Abu Berpotensi Mengarah ke Malang

Otoritas PPGA Semeru mencatat telah terjadi 33 kali erupsi dalam kurun waktu 12 jam./(Foto: Pixabay).

FAKTANASIONAL.NET — Aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang terletak di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali menunjukkan peningkatan dengan catatan rentetan erupsi yang terjadi pada Minggu 31/5/2026.

Berdasarkan laporan berkala yang dirilis oleh Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut tercatat telah mengalami sedikitnya 33 kali erupsi dalam kurun waktu setengah hari, yakni sejak pukul 00.00 hingga 12.00 WIB.

Secara visual, rangkaian letusan tersebut memicu kemunculan kolom abu vulkanik dengan estimasi ketinggian berkisar antara 500 hingga 1.300 meter di atas kompartemen Kawah Jonggring Saloko.

Petugas PPGA Semeru, Sigit Rian Alfian, memaparkan bahwa salah satu letusan dengan intensitas cukup besar terpantau secara jelas oleh instrumen pengawasan di lapangan pada pagi hari.

“Terjadi erupsi Gunung Semeru pada hari Minggu, 31 Mei 2026 pukul 08.16 WIB dengan tinggi kolom abu teramati 1.300 meter diatas puncak,” tulis Sigit Rian Alfian dalam keterangan tertulis resminya pada 31/5/2026.

Baca Juga: UKP Zita Anjani dan Bulog Distribusikan Paket Sembako untuk Pengungsi Erupsi Semeru

Meskipun aktivitas letusan berpusat di wilayah administratif Lumajang, arah embusan angin yang membawa material pasca-erupsi diproyeksikan bakal berdampak pada wilayah tetangga.

Petugas kebencanaan, Isnugroho, memaparkan bahwa sebaran abu vulkanik berpotensi besar jatuh di kawasan pemukiman penduduk di sekitar Kabupaten Malang karena faktor meteorologis di atas puncak gunung.

“Laporan dampak sementara nihil, belum ada laporan yang masuk, tapi kalau arah anginnya ke barat sepertinya hujan abu terjadi di sekitar Malang,” kata Isnugroho menjelaskan perkembangan situasi di lapangan.

Isnugroho menegaskan bahwa hingga saat ini, status aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih tertahan pada level III atau Siaga. Tingginya frekuensi dan intensitas letusan yang terjadi secara terus-menerus ini secara langsung memperbesar risiko terjadinya hujan abu pekat di sekitar lereng gunung.

Selain ancaman material udara, otoritas juga menaruh perhatian serius pada potensi ancaman sekunder berupa banjir lahar dingin, terutama jika kawasan hulu mulai diguyur hujan lebat.

Exit mobile version