“Jika Indonesia-Prancis erat, tentu sangat bagus buat Indonesia. Karena meski bukan negara hegemoni ekonomi, tetapi untuk teknologi militer, Prancis sangat mumpuni,” urai Subhan menambahkan.
Subhan melihat tingginya intensitas kunjungan Presiden Prabowo ke Prancis sebagai wujud nyata dari upaya mempererat hubungan dalam sebuah gestur diplomatik yang bersifat dua arah.
Sinyal kedekatan tersebut tercermin dari riwayat empat kali kunjungan, di mana sebagian besar di antaranya dipenuhi berdasarkan undangan diplomatik resmi dari pihak pemerintah Prancis.
Selain itu, ia mengidentifikasi adanya faktor kepercayaan tinggi (high trust) dalam diplomasi yang dijalankan.
Kunjungan ini juga membawa agenda konkret untuk memperkuat kapasitas militer Indonesia demi memenuhi target Minimum Essential Force (MEF), di samping mengawal kepentingan hilirisasi industri nasional melalui negosiasi IEU CEPA.
“Saya artikan sebagai upaya mempererat hubungan, yang tentunya berlangsung dalam gestur dua arah, dalam arti setara, tidak ada yang subordinatif. Hal ini penting dicatat, karena menjadi berbeda jika banyak kunjungan, tapi tidak dalam posisi yang egaliter setara, baik secara postur diplomatis maupun secara outcome yang dihasilkan,” tuturnya.
Di akhir analisisnya, Subhan menegaskan bahwa Presiden Prabowo tengah mengemban misi besar demi mengamankan kepentingan nasional Indonesia.
Pendekatan diplomatik yang diterapkan dinilai sangat kalkulatif karena mampu menampilkan gestur persahabatan dan perdamaian secara langsung kepada para pemimpin global dari berbagai blok kekuatan dunia yang berbeda.
“Presiden Prabowo sedang mengemban tugas demi kepentingan nasional Indonesia, dengan approach yang sangat kalkulatif, karena berhasil mempresentasikan gestur persahabatan dan perdamaian langsung kepada global leader dari berbagai blok, misalnya BRICS bersama Rusia dan China, dengan AS melalui hubungan bilateral, dan sekarang Uni Eropa Superpower, yakni Prancis,” tandas Subhan.











