Lebih lanjut, ia menyoroti pelemahan rupiah sebagai indikator masalah yang lebih dalam. “Terlebih dengan pelemahan rupiah akhir-akhir ini yang menggambarkan adanya persoalan yang bersifat struktural dan ada persoalan terkait dengan kepercayaan,” ujarnya.
Menurut Hasto, usulan rekonsolidasi fiskal yang digagas PDIP melalui tema Fiscal Resilience (Ketahanan Fiskal) ternyata “masih diwarnai oleh berbagai bentuk belanja negara yang bersifat populis dengan harapan elektoral.”
Kritik ini diperkuat dengan menyebut dampak nyata di masyarakat: “Berbagai persoalan kenaikan harga kebutuhan pangan rakyat, kemiskinan, sulitnya mencari lapangan pekerjaan, dan pemutusan hubungan kerja, kini telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan.”
Hasto tidak sekadar mengkritik dari sudut makro. Ia menegaskan bahwa kebijakan fiskal yang tidak berpihak pada rakyat kecil bertentangan dengan spirit Pancasila sebagai narasi pembebasan.
“Rekonsolidasi fiskal yang kami usulkan bukan sekadar teknis, tapi soal keberpihakan pada rakyat, bukan pada ambisi kekuasaan,” katanya.
Upacara ditutup dengan penampilan Marching Band Red Bull PDIP binaan Ketua DPP bidang Kebudayaan Rano Karno. Hasto mengingatkan pesan Megawati di akhir amanat: “Jadilah banteng-banteng sejati yang membela setiap rakyat yang tertindas di seluruh lapisan Indonesia kita.”
