Kesultanan Banjar Tidak Pernah Karam Selagi Sungai Barito dan Sungai Martapura Masih Mengalir Ke Muara

Kesultanan Banjar Tidak Pernah Karam Selagi Sungai Barito dan Sungai Martapura Masih Mengalir Ke Muara

“Sebaik-baiknya raja adalah yang adil, dan seadil-adilnya hukum adalah yang berpedoman pada kitabullah.” Pada tahun 1835, beliau mengesahkan Undang-Undang Sultan Adam. Undang-undang ini sangat progresif pada zamannya, mengatur berbagai aspek kehidupan komprehensif, di antaranya:

Hukum Pidana dan Perdata: Mengatur hukuman bagi pencurian, pembunuhan, dan sengketa tanah.

Hukum Keluarga: Mengatur pernikahan, waris, dan perlindungan hak perempuan.

Tata Ruang dan Agraria: Mengatur batas wilayah, kepemilikan kebun lada, dan penggunaan lahan kerajaan.

Sayangnya, masa keemasan tata negara ini terjadi di tengah bayang-bayang penjajahan yang semakin pekat.

5. Intrik Istana dan Cengkeraman Kolonial Belanda

Belanda, melalui pemerintah kolonial Hindia Belanda, mulai mengubah taktik mereka dari sekadar berdagang menjadi ambisi menguasai wilayah. Mereka menggunakan strategi klasik: Devide et Impera (pecah belah dan kuasai).

Belanda memanfaatkan konflik suksesi di keraton Banjar. Menjelang akhir hayatnya, Sultan Adam sebenarnya menginginkan cucunya, Pangeran Hidayatullah, untuk menjadi penerus tahta karena kecakapannya dan dukungan penuh dari rakyat serta para ulama.

Namun, Belanda memiliki rencana lain. Mereka mendukung cucu yang lain, yakni Pangeran Tamjidillah. Tamjidillah memiliki gaya hidup yang kebarat-baratan dan dianggap lebih mudah disetir oleh kepentingan Batavia.

Melalui serangkaian tekanan politik, manipulasi perjanjian, dan ancaman militer, Belanda berhasil memaksakan Tamjidillah naik tahta setelah Sultan Adam mangkat pada 1857. Pangeran Hidayatullah diturunkan jabatannya hanya sebagai Mangkubumi (Perdana Menteri).

Tindakan arogan Belanda ini melukai harga diri orang Banjar. Rakyat, ulama, dan bangsawan yang setia menolak mengakui kedaulatan sultan boneka tersebut. Ketegangan mencapai titik didih.

6. Perang Banjar: “Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing”

Pada April 1859, ketidakpuasan itu meledak menjadi perlawanan bersenjata skala besar. Pasukan rakyat yang dipimpin oleh Pangeran Antasari (sepupu Pangeran Hidayatullah) menyerang tambang batu bara milik Belanda di Oranje Nassau, Pengaron. Serangan ini menandai dimulainya Perang Banjar (1859–1905), salah satu perang terlama dan paling menguras kas pemerintah kolonial Belanda.

Karakteristik Perang Banjar

Perang Banjar bukanlah perang berhadap-hadapan di medan terbuka. Pangeran Antasari dan para panglimanya (seperti Tumenggung Surapati, Demang Lehman, dan Panglima Batur) menggunakan taktik gerilya.

Mereka memanfaatkan bentang alam Kalimantan yang berupa sungai-sungai berarus deras, rawa-rawa, dan hutan lebat yang tak bisa ditembus oleh pasukan infanteri Belanda.

Belanda merespons dengan kejam. Pada 11 Juni 1860, Residen Belanda secara sepihak mengumumkan penghapusan Kesultanan Banjar. Wilayah Banjar diklaim langsung berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda.

Keteguhan Sang Pangeran

Meski kerajaan secara de jure telah dihapuskan oleh penjajah, rakyat justru secara de facto mengangkat Pangeran Antasari sebagai Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin (Pemimpin Pemerintahan dan Pemimpin Agama).

Belanda berkali-kali mencoba berunding, menawarkan kekayaan, pangkat, dan wilayah jika Antasari bersedia menyerah. Jawaban Pangeran Antasari selalu konsisten dan menggema hingga hari ini:

“Haram Manyarah Waja Sampai Kaputing!” Semboyan ini berarti pantang menyerah; tekad perjuangan haruslah sekuat baja dari pangkal hingga ke ujung (kaputing).

Perlawanan ini tidak hanya bersifat politis, tetapi digerakkan oleh semangat Jihad fi Sabilillah (berjuang di jalan Allah), yang terus dikobarkan oleh para ulama di kampung-kampung.

Pangeran Antasari wafat pada 1862 karena penyakit paru-paru dan cacar di tengah masa bergerilya, namun perang tak berhenti di situ. Putra-putranya, Sultan Muhammad Seman dan Pangeran Perbatasari, melanjutkan perjuangan di pedalaman Barito hingga benteng terakhir mereka jatuh di awal abad ke-20 (sekitar tahun 1905).

7. Warisan yang Tak Pernah Pudar

Kesultanan Banjar memang telah runtuh secara institusi lebih dari satu abad yang lalu. Namun, roh dan warisan peradabannya tetap hidup dan mengalir di nadi masyarakat Kalimantan Selatan.

Budaya sungainya, pasar terapungnya, arsitektur rumah Banjar (Bumbungan Tinggi), kuliner khasnya, hingga dialek bahasanya adalah bukti tak terbantahkan dari kejayaan peradaban masa lalu. Lebih dari itu, semangat kemandirian pesisir dan keteguhan iman yang diwariskan oleh Sultan Suriansyah, kecintaan pada keadilan dari Sultan Adam, serta keberanian baja dari Pangeran Antasari telah membentuk karakter urang Banjar: tangguh, religius, dan merdeka.

Buku sejarah mungkin mencatat tahun 1860 sebagai akhir dari Kesultanan Banjar. Namun, bagi masyarakatnya, selama Sungai Barito dan Sungai Martapura masih mengalir ke muara, sejarah dan kebanggaan akan Kesultanan Banjar tidak akan pernah karam.[dit]