Reaksi Beragam dari Teheran dan Tel Aviv
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyambut baik momentum ini karena menghasilkan penghentian perang secara langsung (immediate ceasefire). Kendati Presiden Iran Masoud Pezeshkian melabeli draf ini sebagai “pencapaian besar”, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi justru memilih bersikap skeptis dan berhati-hati.
“Kami memiliki sejarah komitmen yang dilanggar. Kami memiliki sejarah kesepakatan yang dibatalkan. Semua itu masih ada dalam pikiran kami,” cetus Araghchi mengingatkan masa lalu.
Kekhawatiran juga membayangi jalannya implementasi kesepakatan di lapangan, mengingat perang ini melibatkan faksi Hizbullah di Lebanon.
Di pihak lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bersikap defensif dan menegaskan bahwa tentara Israel (IDF) tetap akan bersiaga di Lebanon, Suriah, dan Gaza selama situasi dianggap membutuhkan.
Netanyahu mengeklaim, konfrontasi terbuka dengan Iran setidaknya telah berhasil menyelamatkan negaranya dari ancaman eksistensial kehancuran nuklir.
Pasar Keuangan Merespons Positif, Harga Minyak Dunia Anjlok
Kabar damai dari dua kekuatan besar ini langsung direspons instan oleh pasar finansial global.
Tekanan hebat pada sektor pasokan energi dunia diproyeksikan akan segera mereda mengingat Selat Hormuz merupakan urat nadi bagi mobilisasi 20 persen logistik minyak bumi dunia.
Indeks saham gabungan di bursa Wall Street, seperti Dow Jones dan Nasdaq, langsung mencatatkan reli penguatan signifikan, di mana Nasdaq melonjak hingga di atas tiga persen.
Sinyal positif ini berbanding terbalik dengan pergerakan komoditas energi. Harga minyak mentah dunia dilaporkan terjun bebas hingga hampir lima persen, merosot ke kisaran 80 dollar AS (sekitar Rp1,4 juta) per barrel.
Angka ini turun drastis dibandingkan saat puncak konflik luar biasa beberapa waktu lalu yang sempat melesat di atas 110 dollar AS (sekitar Rp1,9 juta) per barrel.
