Mari kita tarik benang merahnya. Febrie dulu adalah ujung tombak Kejagung dalam memberantas korupsi sistemik. Dia mengungkap skandal demi skandal yang merugikan negara triliunan rupiah. Tapi kekuasaan, seperti yang sering kita lihat, punya cara licik untuk membalikkan keadaan. Saat namanya muncul dalam radar Polri, tiba-tiba segalanya berubah.
Penggeledahan besar-besaran, penyitaan harta yang mencengangkan, penetapan tersangka kilat. Tapi penahanan? Ditunda. Kasus dilimpahkan ke Kejagung, tempat Febrie dulu bertahta. Apakah ini kebetulan? Atau strategi cerdas untuk mengontrol narasi? Pengamat hukum pun geleng-geleng kepala.
Beberapa menyebut proses ini kurang transparan, seolah ada tangan tak terlihat yang ingin memperlambat ledakan informasi. Kalau Febrie ditahan dan diperiksa habis-habisan, siapa yang tahu apa yang akan keluar dari mulutnya? Daftar nama-nama besar yang selama ini kebal hukum? Skema jatah yang melibatkan oligarki? Atau bahkan konflik internal antar penegak hukum yang selama ini disembunyikan rapi?
Di balik layar, Jakarta sedang ramai dengan bisik-bisik. Ada bilang ini cara untuk “membuang” Febrie karena dia mulai terlalu berani mengusik proyek-proyek sensitif melibatkan nama-nama besar, mulai dari sektor energi hingga program-program unggulan pemerintah. Ada pula menduga ini pertarungan antar faksi elite, di mana Polri dan Kejagung saling sikut untuk merebut pengaruh.
Febrie, dengan pengetahuan mendalamnya tentang “dapur” penegakan hukum, menjadi pion yang berbahaya. Bukti segunung dan saksi yang sudah dimintai keterangan seharusnya cukup untuk menempatkan dia di balik jeruji besi. Tapi nyatanya, dia masih bebas. Apakah karena dia kooperatif? Atau karena ada kekhawatiran, penahanannya akan membuka kotak Pandora yang terlalu besar untuk ditutup lagi?
Sementara itu, masyarakat menonton dengan campuran antara amarah dan rasa ingin tahu yang menggelitik. Di satu sisi, kita bangga ada upaya memberantas korupsi di level tinggi. Di sisi lain, kita muak melihat pola lama terus berulang. Yang kecil langsung dihukum berat. Yang besar dapat perlakuan spesial. Febrie Adriansyah adalah simbol dari ironi terbesar di negeri ini. Pembasmi korupsi yang kini sendiri menjadi tersangka. Apakah dia akan bernyanyi dan membuat negeri ini gonjang-ganjing? Atau kasus ini akan mengendap pelan-pelan seperti banyak kasus elite sebelumnya?
Yang jelas, drama ini belum selesai. Bukti segunung sudah ada di meja. Saksi sudah berbicara. Pertanyaannya tinggal satu, mengapa Febrie belum ditahan? Jawabannya mungkin ada di balik pintu-pintu tertutup gedung-gedung ber-AC di Jakarta. Saat jawaban itu keluar, siapa tahu kita semua akan terkejut, atau malah tidak terkejut sama sekali. Karena ini Indonesia, negeri di mana hukum kadang seperti karet bisa diregangkan sesuka hati para pemain besar. Tunggu saja babak berikutnya. Pasti semakin seru, dan semakin pahit.
Penulis: Rosmadi Jamani (Wartawan Senior, Ketua Satu Pena Kalbar)
