Untuk diketahui, Presiden saat ini berasal dari Partai Demokrat, sama dengan Kim Daejung, tentunya posisi tentang Semenanjung Korea sepemikiran dengan Presiden Kim Daejung.
Dubes Yoon merasa dengan pengalaman Megawati dan kedekatannya dengan pihak Korea Utara maka Megawati merupakan tokoh yang tepat menjadi utusan khusus (special envoy) bagi perdamaian kedua Korea. Dubes Korsel berjanji untuk menyampaikan seluruh pembicaraan kepada Presiden Lee Jae-myung.
Usai menerima Dubes Korsel, Megawati lanjut menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, Abdulla Salem Al Dhaheri.
Di momen ini, pendamping Megawati bertambah dengan hadirnya Kepala Badan Riset dan Analisis Kebijakan Pusat Partai Andi Widjajanto dan Direktur Eksekutif Megawati Institute Hilmar Farid.
Megawati dan Dubes Al Dhaheri memiliki kedekatan apalagi pascakunjungan Megawati ke UEA awal Februari lalu.
“Terima kasih telah mampir berkunjung ke rumah saya di Abu Dhabi pada Februari lalu. Saya meneruskan salam hangat dari Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Dia tahu pertemuan ini dan mengirimkan salam hangat kepada Ibu,” kata Dubes Al Dhaheri.
Diskusi mengalir tidak hanya isu geopolitik terkait konflik yang terjadi di Timur Tengah namun juga kerja sama lebih erat di berbagai bidang.
Megawati pun mendorong kerja sama Pemerintah UEA dengan Megawati Institute antara lain di bidang toleransi beragama, Pancasila, kajian pemikiran tokoh pendiri bangsa kedua negara. Sementara dalam kapasitas Dewan Pengarah BRIN, Megawati meminta kerja sama BRIN dengan Pemerintah UEA makin diperkuat antara lain penelitian mangrove yang sudah terlaksana di Bali.
