Pemerintah Jerman menegaskan pengalihan kedua kapal dilakukan melalui koordinasi dengan para mitra internasional.
Fulda dan Mosel akan tetap berada dalam status siaga di Laut Mediterania hingga ada keputusan lanjutan, termasuk kemungkinan kembali ke pangkalan asal dengan pengawalan kapal perusak yang memiliki sistem pertahanan udara.
Sementara itu, peneliti Royal Swedish Academy of Naval Sciences, Sebastian Bruns, menilai keputusan tersebut berpotensi dipandang Presiden AS Donald Trump sebagai tanda berkurangnya komitmen Jerman di kawasan.
Meski demikian, ia mengatakan negara-negara Eropa kemungkinan memahami langkah Berlin karena kebijakan Washington terhadap konflik dengan Iran masih dinilai belum memberikan kepastian. Pernyataan itu dikutip dari Pars Today.
Bruns juga menyebut pengerahan unit militer tanpa kepastian situasi keamanan cenderung bernuansa simbolis dan lebih bersifat politis.
Kendati demikian, Kementerian Pertahanan Jerman menegaskan Fulda dan Mosel tetap siap diterjunkan apabila kondisi keamanan di Selat Hormuz dinilai telah stabil untuk mendukung misi internasional di masa mendatang.[dit]











