Konflik di Selat Hormuz terus memburuk seiring perang yang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir.
Washington menuntut kebebasan navigasi internasional di kawasan tersebut, sedangkan Teheran bersikeras seluruh kapal wajib mengikuti mekanisme pelayaran yang mereka kelola, termasuk memperoleh izin serta membayar biaya transit.
Sehari sebelumnya atau Kamis (30/7/2026), IRGC juga melakukan operasi serupa yang menyebabkan dua kapal tanker berbalik arah setelah salah satunya terbakar.
Pada hari yang sama, Jumat (31/7/2026), militer Iran turut mengumumkan serangan drone terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di Pangkalan Udara Ahmad al-Jaber, Kuwait.
Iran menyebut serangan itu merupakan “tanggapan atas agresi baru-baru ini oleh militer AS yang teroris terhadap negara kami dan serangan brutalnya terhadap sebuah rumah tinggal di Pulau Qeshm.”[dit]
