Barangkali persoalan terbesar bukan keberadaan eros, tetapi ketidakmampuan manusia menetapkan batas.
Persahabatan dapat bertahan selama kedua pihak memahami posisi masing-masing. Masalah muncul ketika salah satu pihak mulai berharap lebih, tetapi tetap mempertahankan label “sahabat” sambil menuntut perlakuan seperti pasangan.
Ia ingin selalu dikabari.
Ia ingin menjadi prioritas.
Ia ingin mengetahui dengan siapa sahabatnya pergi.
Ia marah ketika perhatian dibagi kepada orang lain.
Tetapi ketika ditanya mengenai hubungan mereka, jawabannya tetap sama: “Kami cuma sahabatan.”
Kalimat itu dapat menjadi tameng sekaligus jebakan.
Sebab sebuah hubungan tidak hanya ditentukan oleh label, tetapi juga oleh ekspektasi yang hidup di dalamnya.
Persahabatan yang sehat membutuhkan kebebasan. Sahabat tidak seharusnya merasa memiliki hak eksklusif atas kehidupan sahabatnya. Ia boleh peduli, tetapi tidak berhak menguasai. Ia boleh merasa kehilangan, tetapi tidak boleh menjadikan perasaan itu sebagai alasan untuk mengendalikan.
Dan yang paling penting, ia harus berani mengakui apabila perasaannya telah berubah.
Kejujuran memang berisiko.
Mengakui perasaan kepada sahabat bisa membuat hubungan menjadi canggung. Bahkan mungkin persahabatan tersebut berakhir. Tetapi menyembunyikan perasaan selama bertahun-tahun sambil berharap orang lain suatu hari menyadarinya juga bukan bentuk persahabatan yang sepenuhnya sehat.
JADI, APAKAH LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN BISA BENAR-BENAR BERSAHABAT?
Bisa.
Tetapi “bisa” bukan berarti selalu mudah.
Persahabatan laki-laki dan perempuan membutuhkan kematangan emosional yang mungkin lebih besar dibanding sekadar kedekatan biasa. Keduanya harus mampu membedakan antara perhatian dan kepemilikan, kenyamanan dan ketergantungan, kasih sayang dan hasrat, serta persahabatan dan harapan romantis.
Montaigne mungkin benar ketika mengingatkan bahwa manusia tidak pernah sesederhana yang ingin mereka tampilkan. Ada dorongan-dorongan batin yang terkadang tidak disadari. Eros bisa muncul tanpa diundang.
Namun mengatakan bahwa eros pasti menghancurkan persahabatan juga merupakan kesimpulan yang terlalu sederhana.
Justru kedewasaan seseorang terlihat ketika ia menyadari adanya perasaan, kemudian mampu menempatkannya dengan benar.
Sahabat bukan milik kita.
Sahabat adalah manusia merdeka yang kebetulan memilih berjalan bersama kita dalam bagian tertentu dari kehidupan.
Karena itu, persahabatan laki-laki dan perempuan bukanlah sesuatu yang mustahil. Ia hanya menuntut satu hal yang sering kali paling sulit dilakukan manusia: kejujuran terhadap isi hati sendiri.
Mungkin persoalannya bukan apakah ada eros atau tidak.
Persoalan sebenarnya adalah apakah manusia cukup dewasa untuk mengakui keberadaan eros tanpa harus menjadikan orang yang dicintai sebagai miliknya.
Sebab pada akhirnya, persahabatan yang benar bukan tentang tidak pernah memiliki rasa.
Melainkan tentang mampu menghormati seseorang, bahkan ketika hati kita menginginkan lebih.
