FAKTANASIONAL.NET – Bayangkan sebuah negara yang selama setahun menemukan 51 spesies baru. Itulah yang dilaporkan Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN pada awal 2026 berdasarkan hasil penelitian sepanjang 2025.
Dari 51 spesies tersebut, 32 merupakan fauna, 16 flora dan tiga mikroorganisme. Spesimen diperoleh dari berbagai wilayah Indonesia, mulai Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua.
Yang membuat daftar ini menarik bukan hanya jumlahnya. Beberapa nama spesies baru juga sangat dekat dengan kehidupan manusia Indonesia.
Ada Cyrtodactylus pecelmadiun, yang diberi nama populer “Cecak Jari Bengkok Pecel Madiun”.
Ada pula spesies ikan cupang yang populer disebut Cupang Mulyadi.
Nama-nama tersebut menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak selalu harus terdengar asing dan jauh dari masyarakat.
Para peneliti dapat menggunakan nama yang berhubungan dengan lokasi, karakter spesies, atau bahkan orang tertentu yang terkait dengan penelitian.
Tetapi di balik nama yang terdengar lucu, proses penemuannya tidak lucu.
Peneliti harus melakukan survei, mengumpulkan spesimen, memeriksa karakter morfologi, membandingkannya dengan spesies yang sudah diketahui dan melakukan kajian ilmiah.
Temuan tersebut kemudian dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional.
Dalam daftar flora, misalnya, terdapat Chiloschista tjiasmantoi, Homalomena adei, Homalomena pistioides, Begonia antoi, Syzygium halmaherense dan beberapa spesies lainnya.
Sedangkan kelompok fauna mencakup serangga, ikan, amfibi, reptil, moluska dan kelompok lainnya.
Artinya, Indonesia bukan hanya menemukan satu jenis organisme yang bentuknya sangat aneh.
Penemuan berlangsung di banyak kelompok kehidupan.
Hal tersebut memberi gambaran mengenai betapa besarnya pekerjaan para ahli taksonomi.
Satu hutan dapat menyimpan puluhan bahkan ratusan organisme yang belum pernah diberi nama secara ilmiah.
Masalahnya, proses penemuan sering kali jauh lebih lambat dibandingkan perubahan habitat.
Di sinilah muncul paradoks.






