Sangkuni

Sangkuni

Peperangan tidak pernah hanya berisi pidato. Di medan perang, yang jatuh bukan kata-kata, melainkan manusia. Yang kehilangan bukan teori, melainkan keluarga.

Yang membayar bukan slogan, melainkan mereka yang berada paling dekat dengan akibat sebuah keputusan.

Karena itu, sebelum mengikuti seseorang menuju sebuah “pertempuran”, pertanyaan paling penting bukanlah seberapa keras ia berbicara.

Tanyakan: apa yang sudah ia korbankan?

Apakah ia pernah berdiri di barisan paling depan ketika keadaan buruk?

Apakah ia bersedia kehilangan sesuatu ketika perjuangan yang ia serukan gagal?

Apakah ia siap menerima kritik ketika keputusan yang dibuatnya keliru?

Apakah ia tetap berada di samping orang-orang yang ia ajak berjuang ketika semuanya mulai berantakan?

Jika jawabannya tidak, kita perlu berhati-hati.

Sebab sejarah kehidupan manusia menunjukkan bahwa banyak kehancuran bukan dimulai oleh orang bodoh, melainkan oleh orang cerdas yang menggunakan kecerdasannya tanpa tanggung jawab moral.

Sangkuni menjadi pelajaran penting bahwa kecerdasan tanpa integritas dapat berubah menjadi senjata.

Kemampuan berbicara tanpa keberanian bertanggung jawab dapat menjadi racun.

Dan strategi tanpa keberpihakan pada kebenaran hanya akan melahirkan kemenangan yang menyisakan kehancuran.

Kita tidak sedang mengatakan bahwa setiap orang yang tidak ikut bertempur berarti pengecut. Tidak semua orang harus memegang senjata untuk disebut berani.

Pengorbanan memiliki banyak bentuk. Seorang ibu yang bertahan demi keluarganya, pekerja yang jujur ketika kesempatan korupsi terbuka, atau pemimpin yang berani mengakui kesalahan juga sedang berperang.

Persoalannya adalah konsistensi antara ucapan, keputusan, dan kesediaan menanggung akibat.

Manusia yang terus-menerus meminta orang lain berkorban, sementara dirinya memastikan selalu berada di zona aman, layak dicurigai.

Sebab peperangan paling berbahaya bukan ketika dua pasukan bertemu di medan terbuka. Peperangan paling berbahaya terjadi ketika seseorang berhasil membuat orang lain berperang untuk kepentingannya, sementara ia sendiri duduk jauh dari luka.

Itulah wajah Sangkuni yang perlu kita kenali dalam kehidupan modern.

Bukan untuk mencari Sangkuni di antara orang lain, melainkan untuk memastikan jangan sampai kita sendiri menjadi seperti itu.

Sebab pada akhirnya, orang yang paling keras meneriakkan perang belum tentu paling berani bertempur. Bisa jadi ia hanya sedang mencari orang lain untuk mati demi ambisinya.

Dan manusia semacam itu memang berbahaya.[dit]

Exit mobile version