FAKTANASIONAL.NET – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan. Itu kabar positif. Namun, ekonom menyatakan hal sebaliknya.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian kepada wartawan mengatakan, pertumbuhan ekonomi triwulan II 2026 didominasi government-driven growth. Konsumsi pemerintah tumbuh 15,97 persen secara tahunan dan menjadi komponen pengeluaran dengan pertumbuhan tertinggi.
Di satu sisi, kondisi itu tidak sepenuhnya buruk.
Ketika dunia usaha melemah, pemerintah memang dapat menjadi penyangga ekonomi. Belanja pemerintah dapat menjaga permintaan, mempertahankan aktivitas usaha, dan mencegah perlambatan menjadi lebih dalam.
Misalnya, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi melalui konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah. Realisasi anggaran MBG hingga Juni 2026 mencapai Rp98,8 triliun.
Masalahnya adalah keberlanjutan.
Apakah pemerintah dapat terus menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi? Jawabannya tentu tidak.
Negara memiliki keterbatasan anggaran. Belanja pemerintah juga harus bersaing dengan kebutuhan pendidikan, kesehatan, infrastruktur, perlindungan sosial, pertahanan, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Karena itu, kritik ekonom tersebut sebenarnya bukan kritik agar pemerintah berhenti membelanjakan uang.
Kritiknya lebih mendasar: belanja pemerintah harus menjadi pemicu, bukan satu-satunya mesin pertumbuhan.
Perekonomian yang sehat pada akhirnya membutuhkan sektor swasta yang kuat, industri yang produktif, investasi, ekspor, inovasi, serta penciptaan lapangan kerja.
Jika pertumbuhan terutama terjadi karena pemerintah meningkatkan belanja, pertumbuhan tersebut perlu diuji kualitasnya.
Apakah pabrik bertambah? Apakah produktivitas meningkat? Apakah perusahaan membuka lapangan kerja baru? Apakah upah riil masyarakat meningkat? Apakah usaha kecil memperoleh pasar yang lebih luas?
Aneka pertanyaan tersebut penting karena angka PDB tidak selalu menggambarkan seluruh pengalaman ekonomi masyarakat.
Pemerintah sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi 2027 sebesar 6 persen. Dalam RAPBN 2027, belanja negara direncanakan mencapai Rp4.097,2 triliun, sedangkan pendapatan negara diperkirakan Rp3.426 triliun.
Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet kepada wartawan mengatakan, persoalan bukan hanya seberapa besar belanja negara, tetapi seberapa efektif belanja tersebut mendorong aktivitas ekonomi.
Dengan anggaran sekitar Rp4.097 triliun, penyerapan yang lambat atau belanja yang kurang produktif dapat menyulitkan pencapaian target pertumbuhan 6 persen.
Kritik tersebut layak menjadi bahan diskusi publik.
Sebab dalam pengelolaan APBN, angka besar tidak otomatis berarti hasil besar.
Rp1 triliun yang dibelanjakan untuk kegiatan produktif dapat menghasilkan manfaat ekonomi jangka panjang. Sebaliknya, anggaran yang besar tetapi tidak menghasilkan peningkatan produktivitas hanya menciptakan aktivitas sementara.
Di sinilah pemerintah perlu memperkuat ukuran keberhasilan anggaran.
Masyarakat tidak cukup diberi informasi bahwa anggaran telah “terserap”.
Yang lebih penting adalah: apa hasil dari anggaran tersebut?
