Fakta Nasional

Waduh!!! Direktur CIA Kunjungi Rusia secara Diam-Diam

John Ratcliffe adalah kepala badan intelijen AS yang berkunjung ke Rusia pertama kali setelah pecah perang di Ukraina antara Rusia melawan NATO Febuari 2022. Kunjungan terakhir kepala CIA ke Moskow adalah tahun 2021 saat masih dijabat oleh William B…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: M. Sahlan Editor: Redaksi 📍 Nasional Sunday, 30 August 2026 📖 4 menit
Waduh!!! Direktur CIA Kunjungi Rusia secara Diam-Diam

John Ratcliffe adalah kepala badan intelijen AS yang berkunjung ke Rusia pertama kali setelah pecah perang di Ukraina antara Rusia melawan NATO Febuari 2022.

Kunjungan terakhir kepala CIA ke Moskow adalah tahun 2021 saat masih dijabat oleh William Burn, yang juga pernah menjabat sebagai Dubes AS untuk Rusia dimasa lalu.

Kunjungan John Ratcliffe membawa pesan yang sangat jelas, konfrontasi militer Antara Rusia dengan negara NATO semakin dekat. Dan AS sedang berusaha menghindari konfrontasi ini.

Selain itu, Ratcliffe juga membawa pesan ke Putin dari Trump, ajakan Trump ke Putin agar mengadakan pertemuan antara Trump - Putin - Zelensky dalam waktu dekat.

Kepala CIA juga mewarning Putin agar jangan sampai menyerang negara NATO, ini kaitannya dengan semakin intensifnya keterlibatan secara langsung negara NATO dalam pernah di Ukraina.

Negara NATO yang dimaksud adalah Inggris dan beberapa negara yang berbatasan langsung dengan Rusia. Inggris baru baru ini memberikan izin kepada Ukraina untuk transfer teknologi produksi rudal hipersonik canggih Strom Shadow buatan inggris yang sejak 2023 lalu telah dipakai untuk menyerang Rusia.

Putin diyakini oleh CIA akan meluncurkan serangan ke negara NATO apabila keterlibatan mereka di Ukraina semakin tak terkendali. John Ratcliffe membawa pesan Trump ke Putin lewat kepala badan intelijen Rusia.

Hampir 5 tahun perang di Ukraina, media media Barat terus memberitakan persatuan NATO, kekuatan NATO, dan kehebatan NATO di Ukraina melawan Rusia.

Fakta ini bertentangan dengan realitas di lapangan, Ukraina semakin hancur, ratusan ribu prajurit mati konyol, 25% tanah Ukraina telah direbut oleh Rusia di depan mata kekuatan militer NATO.

Sebaliknya, para pendukung Ukraina dari barisan negara negara NATO mengalami devisit angggaran, NATO dan Brussel kehabisan uang untuk membiayai perang yang tidak perlu di Ukraina. AS sendiri berangsur angsur terus menghentikan dana ke Ukraina.

Ukraina butuh puluhan miliar dolar pertahun hanya untuk survive sebagai negara dan agar tidak hilang dari peta. Dan uang itu berangsur kering dengan krisis ekonomi yang dialami negara negara eropa saat ini.

Rusia memahami kondisi di lapangan, Rusia memang sangat berdarah darah melawan NATO, ini sangat wajar, satu negara dikeroyok puluhan negara yang dipimpin oleh koalisi AS.

Rusia meminta bantuan Korea Utara dan joint kerjasama alutsista dengan Iran dan China. Rusia menerima pasokan drone dari Iran, pasukan dari Korut, dan teknologi juga intelijen dari Tiongkok.

Trump sadar betul bahwa perang di Ukraina tidak bisa dimenangkan, Putin terlalu kuat dan benar benar paham GeoPolitik dan logika konfrontasi dengan Barat yang sudah lama dipelajari.

Putin bukan hanya berhasil maju di Medan perang, tapi juga bisa meredam dan menstabilkan kondisi politik domestik dalam negeri Rusia sejak 2022 lalu. Padahal Rusia dalam beberapa bulan terakhir ini diserang oleh Ukraina dengan serangan serangan mematikan yang mengguncang dalam negeri.

Tidak semua rakyat Rusia suka sama Putin, tapi semua rakyat Rusia punya satu suara, bahwa AS dan NATO adalah ancaman eksistensial bagi Rusia. Dengan alasan ini mereka berdiri kokoh bersatu mendukung perang melawan arogansi NATO.

Rusia dengan jumlah penduduk yang hanya 140 an juta jiwa, mampu memobilisasi kekuatan dan manajemen sumberdaya manusia untuk menghadapi perang besar di Ukraina. Mulai dari tentara, SDM teknologi untuk senjata, dan SDM SDM lain untuk terus survive dalam perang ini.

Rakyat Rusia yakin, bahwa ekspansi NATO ke eropa barat dan Timur adalah ancaman serius bagi eksistensi Rusia. Maka rakyat berdiri di belakang Putin untuk menuntaskan perang ini dan membuang ancaman yang ada.

Krisis yang dialami eropa dan juga tekanan yang dialami AS secara domestik, tidak akan menguntungkan mereka di Ukraina, dan yang pasti nasib Ukraina akan semakin hancur di masa masa mendatang.

Putin sengaja memperlambat perang ini, Ukraina adalah Medan tempur sekaligus lab untuk mempelajari kekuatan barat bagi negara negara blok Timur yang sedang berkonflik langsung dengan AS. Rusia, China, Iran dll. Perang di Ukraina diyakini oleh China akan melemahkan AS, sama seperti perang di Iran yang diyakini Putin juga bisa melemahkan AS.

Keterlibatan Korea Utara lebih dalam saat ini dalam membantu Rusia di Ukraina, adalah sinyal paling jelas akan keterlibatan China yang semakin dalam. Korut tidak akan mau mengirim puluhan ribu pasukan secara langsung ke Ukraina untuk membantu Rusia kecuali dengan lampu hijau dari Beijing.

Jika kita perhatikan pola pola konflik GeoPolitik ini, Ukraina adalah contoh nyata sebuah negara yang jadi Medan tempur dan jadi kelinci percobaan negara adidaya tanpa mereka sadari. Ukraina contoh nyata negara yang hancur akibat dua gajah berantem.

Perubahan konstitusi Ukraina tahun 2021 yang menjadi dasar utama kenapa Rusia mengerahkan ratusan tank ke Ukraina 2022 lalu adalah contoh nyata sebuah kebijakan konyol yang di trigger oleh kebijakan luar AS dan Eropa.

Ekspansi NATO yang sejak awal ditujukan untuk melemahkan Rusia, yang sampai sekarang terus berlangsung, adalah contoh lain kebijakan konyol politik luar negeri AS.

AS salah membaca tentang Rusia, barat salah membaca tentang China, dan Eropa juga salah membaca Putin. Ini sama seperti Trump dan para pejabatnya yang salah membaca kekuatan Iran. Ini adalah ciri khas perang atas dasar arogansi dan egoisme pribadi, bukan karena matang dalam kalkulasi.

AS akan menghentikan bantuan ke Ukraina, eropa akan kesulitan membiaya perang yang mahal dan mubazir ini, dan Ukraina akan semakin hancur yang akan kita saksikan di masa masa mendatang, dalam konflik terbesar di Eropa setelah perang dunia ke II ini.

Oleh: Tengku Zulkifli Usman (analis sosial politik/pakar geopolitik)


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK