Halida juga mengaitkan pemikiran Bung Hatta dengan nilai-nilai Pancasila. Dia mengatakan Bung Hatta pada masa akhir hidupnya banyak menulis dan memberikan penjelasan mengenai Pancasila agar nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai dogma, tetapi menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
“Pancasila adalah way of life atau dasar hidup kita yang sudah ada pada kita, tapi kita tidak sadari sudah berabad-abad,” kata Halida.
Halida menilai semangat gotong royong, musyawarah, saling membantu, dan menjaga harmoni merupakan nilai yang telah hidup dalam masyarakat Indonesia dan perlu terus dihidupkan.
Sementara itu, Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Barat Alex Indra Lukman mengatakan peringatan Bulan Bung Hatta juga harus menjadi ruang untuk merawat tradisi demokrasi dan menghargai perbedaan.
Alex menilai perbedaan pilihan politik seharusnya tidak membuat hubungan persahabatan dan silaturahmi terputus.
“Kita boleh berbeda prinsip. Kita boleh berbeda ide. Kita boleh berbeda gagasan. Tapi harusnya kemudian hubungan emosional, hubungan silaturahmi tetap terjaga,” kata Alex.
Alex mengatakan pesan tersebut juga menjadi bagian dari pengalamannya dalam berpolitik. Ia menyebut perbedaan pandangan politik dengan sejumlah sahabat tidak membuat hubungan personal harus berakhir.
Menurut dia, demokrasi membutuhkan kemampuan untuk menerima perbedaan tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk memutus hubungan sosial.
“Mudah-mudahan acara ini bisa menjadi pemicu untuk kemudian nilai-nilai demokratis, nilai-nilai musyawarah, nilai-nilai perbedaan itu bisa tumbuh terutama di Sumatera Barat dan umumnya di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Kepala Badan Sejarah DPP PDI Perjuangan Bonnie Triyana mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Pekan Bung Hatta yang digelar untuk memperingati kelahiran Bung Hatta pada 12 Agustus 1902.
Bonnie menegaskan kembali pentingnya menempatkan Bung Karno dan Bung Hatta sebagai dwitunggal dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
“Bung Hatta dan Bung Karno adalah dwitunggal dan satu kesatuan,” kata Bonnie.
Bonnie menilai berbagai anggapan yang menggambarkan hubungan Bung Karno dan Bung Hatta sebagai hubungan yang selalu berseberangan perlu dilihat secara lebih proporsional.
Menurut Bonnie, keduanya memiliki peran dan kapasitas yang berbeda, tetapi sama-sama berjuang untuk mencapai cita-cita kemerdekaan Indonesia.
Bonnie juga mengapresiasi DPD PDI Perjuangan Sumatera Barat yang menggelar kegiatan tersebut. Ia menyebut kegiatan di Padang menjadi momentum penting untuk memperkenalkan kembali pemikiran Bung Hatta kepada masyarakat.
“Kita akan kenang dan kita akan merayakan bersama-sama sehingga pemikirannya akan terus hidup,” ujarnya.
Wali Kota Padang Fadli Amran yang turut menghadiri acara ini mengatakan Bung Hatta memiliki hubungan historis yang kuat dengan Kota Padang dan Sumatera Barat. Menurut dia, jejak Bung Hatta masih menjadi bagian dari identitas sejarah daerah tersebut.
Fadli menyebut nama Bung Hatta bahkan tercantum dalam Mars Kota Padang.
“Bung Hatta lahir di kota ini. Kota pendidikan, di mana Bung Hatta belajar. Itu betul-betul tampak tertulis di situ, di Mars,” kata Fadli.
Pagelaran naratif-musikal ini kemudian dilanjutkan dengan penampilan seni yang disutradarai Edy Utama sebagai bagian dari rangkaian kegiatan memperingati Bulan Bung Hatta. Hadir juga Sekretaris Acara Pekan Bung Hatta sekaligus anggota DPR RI Sigit Karyawan Yunianto.
