YOGYAKARTA, FAKTANASIONAL.NET — Suasana berbeda menyambut puluhan delegasi dari berbagai negara yang mengikuti CALD Conference on Democratic Resilience in Southeast and East Asia di Yogyakarta.
Jauh dari kemewahan ruang pertemuan hotel, para delegasi diajak menikmati Welcome Dinner di Pendopo Desa Budaya Gadingan, Yogyakarta, Jumat (4/9/2026) malam.
Malam keakraban itu berlangsung sederhana di pendopo terbuka tanpa pendingin udara. Namun, tempat tersebut memiliki makna personal dan historis bagi Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. Di salah satu sudut rumah Jawa itulah Hasto dilahirkan pada 1966 dan kemudian tumbuh dalam lingkungan masyarakat dengan tradisi kebudayaan agraris yang kuat.
Didampingi istrinya, Maria Stefani Ekowati, Hasto menyambut pimpinan partai politik, legislator, akademisi, serta sejumlah tokoh dari berbagai negara Asia.

Turut hadir pengamat pertahanan Prof. Connie Rahakundini Bakrie, pengamat Karina De Vega, penyanyi Yuni Shara, cendekiawan Dr. Sukidi, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Ketua DPD PDI Perjuangan DIY Nuryadi, serta sejumlah kepala daerah dari PDI Perjuangan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Di hadapan para delegasi internasional, Hasto menjelaskan bahwa pemilihan Desa Gadingan bukan sekadar untuk memperkenalkan kekayaan seni dan tradisi Nusantara. Kebudayaan, menurutnya, memiliki kekuatan untuk menjaga ruang kebebasan masyarakat ketika demokrasi menghadapi tekanan populisme otoriter.
“Di tempat ini kita belajar hidup berdampingan, menjaga prinsip Memayu Hayuning Bawono atau merawat keharmonisan dunia. Ketika politik terputus dari akar rumput, kekuasaan kehilangan karakter demokratisnya. Namun melalui puisi, tarian, dan lagu, masyarakat dapat menyuarakan kritik sosial secara damai untuk menantang sifat otoriter kekuasaan,” kata Hasto.
Hasto kemudian mengajak para tamu mencermati filosofi gamelan yang dimainkan warga Desa Gadingan. Menurutnya, gamelan menggambarkan bagaimana keberagaman tidak harus menghasilkan pertentangan, melainkan dapat dipadukan menjadi sebuah harmoni.
“Gamelan adalah musik yang paling demokratis di dunia. Meskipun dimainkan oleh banyak pemusik dengan instrumen yang berbeda-beda, mereka bermain bersama menciptakan sebuah harmoni,” ujarnya.
Bagi Hasto, prinsip yang sama semestinya berlaku dalam kehidupan demokrasi. Perbedaan suara dan pandangan harus mendapat ruang, tetapi semuanya diarahkan untuk kepentingan bersama dan pertanggungjawaban kekuasaan kepada rakyat.











