Publik mempertanyakan sejauh mana penataan rumah jabatan tersebut diperlukan untuk mendukung tugas gubernur dan apakah seluruh fasilitas yang tersedia telah disesuaikan dengan prinsip efisiensi penggunaan anggaran pemerintah daerah.
Pertanyaan itu terutama berkaitan dengan biaya yang kemungkinan dialokasikan untuk penataan interior, perlengkapan, hingga berbagai fasilitas pendukung di rumah jabatan.
Kritik yang muncul tidak semata-mata mempersoalkan keberadaan rumah jabatan sebagai fasilitas resmi kepala daerah. Perhatian publik lebih diarahkan pada aspek kewajaran serta prioritas penggunaan anggaran di tengah berbagai kebutuhan masyarakat.
Netizen mempertanyakan apakah belanja untuk penataan dan fasilitas Rumah Jabatan Gubernur Kalteng benar-benar sebanding dengan kebutuhan rakyat.
Perdebatan tersebut pun menunjukkan bahwa fasilitas pejabat publik semakin mudah menjadi perhatian masyarakat, terutama ketika visualnya tersebar luas di media sosial.
Transparansi mengenai anggaran dan dasar kebutuhan setiap fasilitas menjadi hal penting untuk menjawab pertanyaan publik sekaligus menjaga kepercayaan terhadap pemerintah daerah.[dit]
