Ia mengatakan kebutuhan air untuk konsumsi kini sepenuhnya mengandalkan air yang dibeli.
“Kalau kondisinya terus seperti ini, air sumur bisa habis. Kami berharap ada bantuan air bersih,” harapnya.
Krisis semakin berat karena Sungai Ciseel yang biasanya menjadi pilihan warga untuk mencuci juga mengalami kekeringan. Aliran sungai menghilang dan hanya menyisakan genangan di antara bebatuan serta lumpur.
Warga pun harus berjalan menuju lokasi tersebut sambil membawa pakaian. Aktivitas mencuci di sungai kini menjadi rutinitas pada pagi dan sore hari.
Ketua RT setempat, Karno, menyebut kekeringan di wilayahnya telah berlangsung hampir empat bulan. Air sumur yang tersisa hanya dapat digunakan untuk sanitasi dasar dan mencuci peralatan dapur.
“Untuk mencuci pakaian, warga memanfaatkan air genangan di Sungai Ciseel. Kami berharap ada bantuan air bersih dari pemerintah desa maupun kabupaten,” ungkapnya.
Warga kini berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan air bersih sembari menunggu hujan turun dan mengembalikan kondisi sumber air.
“Mudah-mudahan ada turun hujan, jadi pengairan normal kembali,” ucapnya.[dit]











