KALAU kita bicara tentang pembangunan bangsa, pikiran kita sering kali langsung tertuju pada jalan yang mulus.
Mata kita melihat gedung-gedung tinggi, teknologi yang semakin canggih, pertumbuhan ekonomi, serta berbagai proyek besar yang terus bermunculan.
Semua itu penting.
Namun, satu pertanyaan sering luput dari perhatian: siapa manusia yang akan mengisi seluruh kemajuan tersebut?
Membangun jalan membutuhkan anggaran. Mendirikan gedung memerlukan tenaga ahli. Mengembangkan industri membutuhkan modal dan teknologi.
Namun, membentuk manusia membutuhkan sesuatu yang jauh lebih rumit: kesadaran, karakter, pendidikan, keteladanan, rasa tanggung jawab, serta kemauan untuk berjuang dalam waktu panjang.
Pada titik inilah pemikiran dan keteladanan dr. Soetomo menarik untuk kita renungkan kembali.
Kita tidak cukup melihat perjuangannya sebagai bagian dari sejarah pergerakan nasional. Lebih jauh, gagasannya mengingatkan bahwa sebuah bangsa tidak cukup hanya memiliki tubuh yang kuat. Bangsa juga membutuhkan jiwa yang hidup.
Apa artinya negara memiliki pembangunan fisik yang megah jika manusianya kehilangan arah?
Apa arti teknologi berkembang begitu cepat jika kecerdasan tidak berjalan bersama kebijaksanaan?
Apa arti kemerdekaan yang telah kita raih jika masyarakat masih rendah diri, mudah terpecah, dan tidak percaya pada kekuatannya sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat gagasan tentang pembangunan jiwa bangsa tetap relevan hingga hari ini.
Bangsa Harus Mengenal Dirinya Sendiri
Menurut saya, pembangunan bangsa seharusnya bermula dari sesuatu yang sederhana, tetapi sering kali paling sulit: mengenal diri sendiri.
Bangsa yang tidak mengenal dirinya mudah kehilangan arah. Ia terus menjadikan bangsa lain sebagai ukuran, kemudian merasa selalu tertinggal.
Kita tentu perlu mempelajari kemajuan negara lain. Namun, belajar tidak berarti kehilangan jati diri.
Kita dapat mengambil ilmu pengetahuan dari berbagai penjuru dunia, mengadopsi teknologi yang lebih maju, serta mempelajari sistem pendidikan, ekonomi, pemerintahan, dan kebudayaan dari negara lain.
Namun, kita tetap perlu bertanya: apakah semua itu membuat manusia Indonesia semakin berdaya atau justru semakin bergantung?
Kesadaran tersebut penting karena kemerdekaan tidak hanya berarti terbebas dari kekuasaan asing.
Kemerdekaan juga menyentuh persoalan yang lebih dalam: apakah manusia di dalamnya mampu berdiri dengan keyakinan terhadap kemampuannya sendiri?
Rasa minder sebuah bangsa dapat berubah menjadi belenggu yang tidak terlihat.
Karena itu, kita perlu memanfaatkan pengetahuan, teknologi, sistem pendidikan, ekonomi, pemerintahan, dan kebudayaan dari berbagai negara untuk memperkaya sekaligus memperkuat bangsa sendiri.
Bangsa yang percaya kepada dirinya sendiri akan lebih berani belajar, mencoba, memperbaiki kesalahan, dan menciptakan sesuatu.
Sebaliknya, hilangnya kepercayaan diri membuat masyarakat mudah menjadi konsumen gagasan orang lain tanpa pernah sungguh-sungguh menjadi pencipta.
Di sinilah pendidikan memperoleh tempat yang sangat penting.
Pendidikan Bukan Sekadar Membuat Orang Pintar
Kita sering mengatakan bahwa pendidikan merupakan kunci masa depan.
Namun, kunci itu hendak membuka pintu yang mana?
Jika pendidikan hanya mengejar nilai, ijazah, jabatan, dan pekerjaan, kita telah mempersempit maknanya.
Pendidikan seharusnya tidak hanya mengajarkan manusia menjawab pertanyaan. Pendidikan juga perlu melatih manusia mengajukan pertanyaan dengan benar.
Manusia terdidik bukan sekadar orang yang memiliki banyak pengetahuan. Ia juga mampu membedakan kebenaran dan kekeliruan, kepentingan pribadi dan kepentingan bersama, kebebasan dan kesewenang-wenangan.
Akal harus tumbuh.
Rasa harus hidup.
Karsa harus bergerak.
Sebab manusia bukan mesin yang hanya membutuhkan informasi.
Kita sedang membentuk manusia yang kelak menjadi guru, dokter, hakim, pengusaha, birokrat, politisi, pekerja, pemimpin, orang tua, dan anggota masyarakat.
Bayangkan seseorang memiliki kecerdasan luar biasa tetapi tidak memiliki kejujuran.
Ia dapat menggunakan kecerdasannya untuk membangun. Namun, ia juga dapat memanfaatkannya untuk memanipulasi.
Begitu pula seseorang dengan kemampuan teknologi tinggi tetapi tanpa tanggung jawab moral.
Teknologi yang semestinya membantu manusia dapat berubah menjadi alat untuk menipu, menyebarkan kebencian, mencuri data, atau merusak kehidupan orang lain.
Karena itu, pendidikan tidak boleh berhenti pada penyampaian pengetahuan.
Pendidikan harus membentuk manusia.
Dalam konteks tersebut, guru memiliki peran jauh lebih besar daripada sekadar mengajar di depan kelas.
Guru mendidik melalui perkataan sekaligus perilaku.
Murid mungkin melupakan sebagian materi setelah bertahun-tahun. Namun, keteladanan seorang guru dapat menetap jauh lebih lama dalam ingatan.
Guru yang datang tepat waktu mengajarkan disiplin.
Guru yang jujur menanamkan integritas.
Guru yang menghargai murid mengajarkan kemanusiaan.
Guru yang berani mengakui kesalahan menunjukkan kerendahan hati.
Dengan demikian, pendidikan tidak hanya tumbuh dari buku.
Pendidikan juga lahir dari contoh.
Bangsa yang ingin membangun manusia harus serius meningkatkan kualitas para pendidiknya.
Persatuan Bukan Berarti Harus Seragam
Persatuan menjadi persoalan penting karena kita hidup di tengah perbedaan: suku, bahasa, budaya, daerah, latar belakang ekonomi, cara berpikir, bahkan pilihan hidup.
Persatuan tidak menuntut semua orang menjadi sama.
Justru perbedaan membuat persatuan memiliki makna ketika masyarakat mampu menyatukannya melalui tujuan bersama.
Saya sering membayangkan persatuan seperti sebuah gamelan.
Tidak semua instrumen menghasilkan suara yang sama.
Ada yang berbunyi keras, ada yang lembut. Ada yang memainkan ritme, ada yang mengisi ruang. Masing-masing memiliki fungsi.
Jika semua instrumen memaksakan suara yang sama, yang muncul bukan harmoni, melainkan kekacauan.
Begitu pula sebuah bangsa.
Tidak semua orang harus menjadi pemimpin.
Tidak semua orang harus menjadi pengusaha.
Tidak semua orang harus menjadi akademisi.
Tidak semua orang harus bekerja di pemerintahan.
Ada yang mengolah sawah.
Ada yang mengajar di sekolah.
Ada yang berdagang di pasar.
Ada yang merawat pasien.
Ada yang mengembangkan teknologi.
Ada yang bekerja sebagai jurnalis.
Ada pula yang menjalankan pekerjaan sederhana yang mungkin tidak pernah masuk berita.
Semua memiliki tempat dalam kehidupan bangsa.
Persoalannya bukan siapa yang berada paling tinggi.
Persoalannya ialah apakah setiap orang menjalankan perannya dengan tanggung jawab.
Karena itu, generasi tua dan generasi muda tidak seharusnya saling mencurigai.
Generasi tua memiliki pengalaman.
Generasi muda membawa energi dan gagasan baru.
Pengalaman tanpa regenerasi dapat melahirkan kebuntuan.
Energi tanpa pengalaman dapat mendorong tindakan tergesa-gesa.
Keduanya perlu bertemu.
Di sinilah kaderisasi menjadi penting.
Sebuah organisasi, lembaga, gerakan, bahkan negara tidak boleh bergantung selamanya kepada satu figur.
Ketika seluruh kekuatan bertumpu pada satu orang, kepergiannya dapat meninggalkan kekosongan arah.
Pemimpin yang baik bukan hanya meninggalkan pengikut.
Ia menyiapkan penerus.
Dari Indonesia Merdeka Menuju Indonesia Mulia
Kemerdekaan bukan garis akhir.
Kemerdekaan memberi kesempatan kepada bangsa untuk menentukan sendiri arah perjalanannya.
Karena itu, setelah kemerdekaan tercapai, muncul pertanyaan yang lebih berat:
Untuk apa kemerdekaan kita gunakan?
Apakah hanya untuk mengganti siapa yang memegang kekuasaan?
Apakah hanya untuk membangun gedung pemerintahan?
Apakah hanya untuk mengejar pertumbuhan ekonomi?
Tentu tidak.
Kemerdekaan semestinya membawa manusia menuju kehidupan yang lebih bermartabat.
Di sinilah gagasan tentang Indonesia yang mulia memperoleh makna.
Kemuliaan sebuah bangsa tidak hanya terlihat dari ketinggian gedung yang berhasil dibangun.
Kita juga dapat melihatnya dari cara negara memperlakukan manusia yang paling lemah.
Bagaimana pendidikan berjalan.
Bagaimana hukum ditegakkan.
Bagaimana kesempatan ekonomi terbuka.
Bagaimana masyarakat miskin diperlakukan.
Bagaimana negara menyikapi perbedaan.
Bagaimana pemimpin menggunakan kekuasaan.
Dan bagaimana masyarakat menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara.
Negara yang kuat bukan hanya mampu membangun.
Negara yang kuat memiliki manusia yang mampu merawat dan mengembangkan hasil pembangunan.
Pembangunan fisik tanpa karakter dapat melahirkan paradoks.
Kita mungkin memiliki fasilitas modern, tetapi perilaku sosial tetap buruk.
Kita memiliki teknologi canggih, tetapi masyarakat mudah mempercayai informasi palsu.
Kita memiliki institusi, tetapi budaya tanggung jawab belum tumbuh kuat.
Kita memiliki kebebasan, tetapi sebagian orang menggunakannya untuk merendahkan sesama.
Maka persoalannya bukan sekadar seberapa jauh pembangunan berlangsung.
Kita juga perlu bertanya: manusia seperti apa yang sedang kita bangun?
Ketika Materialisme Mengalahkan Nilai
Salah satu tantangan kehidupan modern muncul ketika manusia mengukur keberhasilan melalui sesuatu yang mudah terlihat.
Jabatan.
Kekayaan.
Popularitas.
Jumlah pengikut.
Rumah.
Kendaraan.
Gelar.
Pengaruh.
Semua itu tidak otomatis buruk.
Masalah muncul ketika ukuran tersebut menjadi satu-satunya patokan keberhasilan.
Manusia kemudian belajar bahwa yang penting bukan menjadi baik, melainkan terlihat baik.
Bukan bekerja dengan benar, melainkan terlihat berhasil.
Bukan memberi manfaat, melainkan memperoleh pengakuan.
Dalam keadaan seperti ini, pembangunan jiwa menjadi semakin penting.
Manusia membutuhkan kompas.
Ilmu memberi kemampuan.
Nilai memberi arah.
Kekuasaan memberikan kewenangan.
Moral menentukan cara seseorang menggunakan kewenangan tersebut.
Uang menyediakan fasilitas.
Karakter menentukan apakah fasilitas itu menghasilkan manfaat atau justru memenuhi keserakahan.
Bangsa yang ingin maju perlu membangun keduanya: kemampuan dan karakter.
Jangan sampai kita begitu sibuk mengejar kemajuan hingga lupa bertanya apakah kemajuan tersebut benar-benar membuat manusia semakin manusiawi.











