Orang tua memikirkan kesehatan anaknya. Sekolah harus mempertimbangkan aktivitas luar ruangan.
Pekerja tetap harus mencari nafkah meskipun udara sedang tidak bersahabat. Pengendara harus menghadapi jarak pandang yang menurun.
Masyarakat biasa akhirnya menjadi pihak yang menerima dampak paling langsung.
Ironisnya, mereka bukan pembuat kebijakan.
Mereka bukan pemegang kewenangan.
Mereka juga bukan pihak yang menentukan bagaimana sebuah kawasan dikelola.
Namun ketika asap datang, merekalah yang harus menghirupnya.
Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya menyampaikan bahwa penanganan terus dilakukan. Publik berhak mengetahui langkah konkretnya.
Kawasan mana yang menjadi prioritas?
Bagaimana pencegahannya?
Bagaimana pengawasannya?
Bagaimana penegakan hukumnya?
Dan yang tidak kalah penting, mengapa persoalan serupa terus muncul kembali?
Pertanyaan tersebut bukan bentuk kebencian kepada pemerintah.
Justru kontrol publik diperlukan agar penanganan bencana tidak berhenti pada rutinitas tahunan.
Kalimantan Barat membutuhkan strategi jangka panjang, bukan sekadar respons ketika asap sudah memenuhi langit.
Sebab kalau setiap tahun masyarakat kembali melihat pemandangan yang sama, maka yang harus diperiksa bukan hanya kondisi cuaca.
Sistemnya juga harus diperiksa.
Langit yang gelap pada siang hari seharusnya menjadi alarm, bukan tontonan biasa.
Jangan sampai masyarakat akhirnya terbiasa memakai masker, terbiasa melihat kabut, terbiasa mengeluhkan udara, lalu terbiasa pula menerima keadaan.
Karhutla tidak boleh menjadi tradisi tahunan.
Asap tidak boleh menjadi bagian dari “cuaca biasa”.
Dan langit Kalimantan Barat tidak semestinya harus menunggu hujan untuk kembali terlihat biru.
Pemerintah memang tidak mungkin mengendalikan seluruh faktor alam. Tetapi pencegahan, pengawasan, koordinasi, keterbukaan informasi, dan penegakan hukum merupakan ruang yang dapat diperkuat.
Maka ketika siang hari mendadak gelap, jangan hanya bertanya kapan matahari kembali terang.
Tanyakan juga kapan akar persoalan karhutla benar-benar diselesaikan.
Sebab masyarakat tidak meminta sesuatu yang berlebihan.
Mereka hanya ingin satu hal yang sangat mendasar: menghirup udara bersih di tanah tempat mereka hidup.[dit]











