Kementerian Kehutanan juga mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit. Data tersebut tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran ataupun luas lahan yang terbakar.
“Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi harus diverifikasi melalui pemeriksaan langsung di lapangan untuk memastikan kondisi aktual serta menentukan tindakan penanganan yang diperlukan,” tuturnya.
Di wilayah lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kebakaran hutan dan lahan terjadi di 10 distrik di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, pada Jumat (9/10/2026) pukul 18.00 WIT.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyebut wilayah terdampak meliputi Kurik, Nokenjere, Sota, Tanah Miring, Eli Kobel, Muting, Subur, Ilwayab, Ngguti, dan Kaptel.
Pendataan sementara menunjukkan luas lahan terbakar di sembilan lokasi mencapai sekitar 63 hektare. Sementara itu, luas kebakaran di Kampung Kondo, Distrik Nokenjere, masih dalam pendataan.
Pada Sabtu (10/10), api di Kampung Harapan Makmur, Desa Sota, Desa Sarmayam Indah, dan Desa Bumun dilaporkan padam dan memasuki tahap pendinginan. Kebakaran di Desa Set Agung masih ditangani, sedangkan penanganan di Kampung Wanam dan Kampung Salam Epe dilakukan pihak perusahaan.
Adapun kebakaran di Kampung Kondo, Kampung Wakai, dan Kampung Ihalik belum dapat ditangani karena lokasi yang jauh dan sulit dijangkau.
“Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam upaya pengendalian api sehingga pemantauan dan koordinasi dengan pihak terkait perlu terus dilakukan. Hingga laporan diterima, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat karhutla tersebut,” ucap Berton.[dit]









