JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – Rangkaian data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia sedang memasuki fase yang patut diwaspadai.
Di satu sisi, tekanan biaya dari luar negeri terus meningkat melalui kenaikan harga impor. Di sisi lain, kemampuan ekonomi nasional menyerap guncangan eksternal mulai melemah seiring menyusutnya surplus perdagangan ke level yang sangat tipis.
Sekilas, data perdagangan April 2026 tampak menggembirakan. Nilai ekspor Indonesia mencapai US$25,30 miliar atau tumbuh 21,98 persen dibandingkan April tahun lalu.
Namun di balik kenaikan tersebut terdapat perkembangan yang jauh lebih penting untuk dicermati. Nilai impor pada bulan yang sama mencapai US$25,21 miliar sehingga surplus perdagangan Indonesia hanya tersisa sekitar US$89 juta.
Angka ini menunjukkan bahwa hampir seluruh tambahan devisa yang diperoleh dari kenaikan ekspor telah terserap kembali oleh lonjakan impor. Akibatnya, ruang perlindungan yang biasanya diberikan oleh surplus perdagangan terhadap stabilitas rupiah, cadangan devisa, dan sentimen pasar menjadi semakin terbatas.
Struktur ekspor Indonesia juga belum menunjukkan perubahan fundamental yang berarti. Sepanjang Januari–April 2026, ekspor memang meningkat 5,48 persen, tetapi pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh sejumlah komoditas tertentu seperti minyak nabati dan nikel.
Ketergantungan terhadap komoditas membuat kinerja ekspor nasional tetap rentan terhadap perubahan harga global dan perlambatan ekonomi negara tujuan utama, khususnya Tiongkok.
Pada saat yang sama, sektor-sektor yang memiliki keterkaitan luas terhadap penyerapan tenaga kerja justru menunjukkan pelemahan.
Ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan turun 26,27 persen, sementara ekspor sektor pertambangan dan lainnya turun 8,44 persen.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa kenaikan ekspor nasional belum sepenuhnya mencerminkan penguatan yang merata di seluruh sektor ekonomi.
Perkembangan impor memberikan sinyal yang lebih serius. Selama Januari–April 2026, nilai impor meningkat 13,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebanyak 71,45 persen impor masih didominasi oleh bahan baku dan barang penolong, sementara impor barang modal naik 19,02 persen dan impor barang konsumsi meningkat 15,68 persen.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas produksi nasional masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasokan dari luar negeri.
Ketika harga barang impor meningkat, biaya produksi dalam negeri ikut terdorong naik karena sebagian besar industri masih bergantung pada bahan baku, komponen, dan mesin yang berasal dari pasar internasional.
Gejala tersebut mulai terlihat pada perkembangan harga perdagangan internasional. Selama Triwulan I-2026, Indeks Harga Ekspor meningkat 9,06 persen dibanding triwulan sebelumnya.
Namun dalam periode yang sama, Indeks Harga Impor juga naik 8,95 persen. Yang lebih penting, Indeks Harga Impor nonmigas meningkat 9,41 persen secara triwulanan dan 12,61 persen secara tahunan.











