Selain itu, Daniel juga menyoroti Aplikasi Temu, sebuah e-commerce asal China yang mulai masuk ke Indonesia.
Aplikasi tersebut menjadi perhatian karena menjual barang dari pabrik langsung ke konsumen dengan harga lebih murah dibanding platform e-commerce lainnya. “Ini apalagi ada aplikasi dari China itu, UKM kita semakin terancam,” tutur Daniel.
Kehadiran aplikasi Temu dengan model bisnis yang tidak sehat seperti itu mengancam kedaulatan ekonomi Indonesia. Daniel menyatakan bahwa produk-produk impor murah yang dijual melalui platform ini dapat mematikan usaha UMKM lokal yang telah berjuang keras untuk bersaing.
“Aplikasi Temu juga semakin merugikan perekonomian negara karena transaksi mereka tidak dikenakan pajak,” sebutnya.
Kementerian Perdagangan menekankan bahwa semua e-commerce luar negeri harus memenuhi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 31 Tahun 2023 tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik.
Selama aplikasi Temu masih belum memenuhi persyaratan, pemerintah belum akan mengeluarkan izin untuk perdagangan di Indonesia.
Daniel mendorong masyarakat untuk tidak tergoda dengan harga barang murah dari platform luar negeri yang mengancam perekonomian nasional dan untuk mendukung produk-produk dalam negeri.
“Dengan membeli produk UMKM, kita tidak hanya membantu meningkatkan perekonomian lokal tetapi juga menjaga keberagaman budaya dan kearifan lokal,” imbaunya.
Ia berharap pemerintah memperketat proses pengawasan perdagangan untuk mencegah praktik-praktik curang dari pelaku usaha luar negeri dan menindak pihak-pihak nakal yang mengancam industri dan pasar dalam negeri.
“Indonesia harus menunjukkan taringnya. Jangan sampai kita dimanipulasi oleh pihak asing,” tukas Daniel.
“Masa dari tambang emas, walet, baju, elektronik, hingga restoran kita diamkan saja mereka merambah pengusaha lokal. Pemerintah harus menertibkan dan menindak tegas agar UKM kita tidak hancur,” pungkasnya.[dnl]
