Sofyan juga menyoroti masih banyaknya guru honorer yang memiliki pekerjaan sampingan karena penghasilannya sebagai tenaga pendidik tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarga.
Lembaga riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) pada Mei 2024 menyebut ada 42% guru dan 74% guru honorer memiliki penghasilan di bawah Rp 2 juta rupiah, serta 13% guru dan 20,5% guru honorer memiliki penghasilan di bawah Rp 500 ribu.
Dari laporan yang sama juga diketahui, 89% guru di Indonesia merasa penghasilan mereka pas-pasan atau kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Selain itu, 55,8% guru diketahui memiliki pekerjaan sampingan, serta 79,8% guru memiliki utang.
Tak heran banyak masyarakat dari profesi guru banyak yang terjerat pinjaman online (Pinjol) seperti laporan NoLimit yang mengatakan 42% masyarakat yang terjerat pinjol ilegal berprofesi sebagai guru.
Baru-baru ini di media sosial juga viral kisah Alvi Noviardi, seorang guru honorer asal Sukabumi yang memulung sepulang mengajar. Alvi telah menjadikan memulung sebagai pekerjaan sampingan selama 36 tahun karena penghasilannya sebagai guru honorer tidak bisa menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Berkaca dari berbagai data dan peristiwa yang menunjukkan rendahnya tingkat kesejahteraan guru, Sofyan berharap Pemerintah membuat program terobosan.
“Guru tidak boleh lagi penghasilannya di bawah UMR, termasuk guru honorer. Mereka pahlawan pendidikan kita. Instrumen yang bisa dilakukan adalah dengan sertifikasi, dan inpassing (penyetaraan profesi guru negeri maupun swasta) yang hari ini sudah tidak ada,” ujarnya.
“Kalau itu kita gunakan, tidak ada guru kita yang penghasilannya di bawah UMR atau bekerja sebagai pemulung atau pekerjaan yang semestinya tidak dilakukan oleh seorang guru,” imbuh Sofyan.
Di sisi lain, Sofyan juga menggarisbawahi pentingnya pendidikan holistik di sekolah yang memberikan perhatian pada pengembangan karakter, kecerdasan emosional, serta keterampilan sosial siswa.
“Dengan pendekatan ini, anak-anak dapat mengembangkan potensi mereka secara maksimal di sekolah. Pendidikan holistik juga sejalan dengan visi besar bangsa dalam membentuk generasi yang mampu berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa di masa depan,” pungkasnya.[dnl]
