JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – Sistem Manajemen Kelangsungan Usaha (SMKU) atau Business Continuity Management System (BCMS) adalah aplikasi risiko manajemen untuk risiko yang jarang terjadi, tetapi bila risiko terjadi maka dapat mempengaruhi pencapaian kinerja secara signifikan. Oleh karena itu, organisasi yang maju harus memiliki sistem manajemen usaha yang berkelanjutan.
Namun hingga saat ini penerapan SMKU atau BCMS masih dianggap sesuatu yang kurang penting oleh perusahaan. Oleh sebab itu, tak mengherankan masih sedikit pelaku usaha yang serius menerapkan SMKU/BCMS di perusahaan mereka.
Hal ini terungkap dalam dialog bertemakan “Pentingnya Sistem Manajemen Kelangsungan Usaha (SMKU) Sektor Kontruksi untuk Menjaga Sustainability Korporasi” yang digelar InCRA (Indonesian Continuity anf Resilience Association) di Balroom Kantor Pusat BPJS Kesehatan, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Sabtu (18/1/2025).
Salah satu narasumber yang menjadi pembicara dalam dialog tersebut, Ir. Subkhan, S.T, M.PSDA, IPU, Asean mengungkapkan bahwa enggannya korporasi menerapkan BCMS karena mereka menganggap itu hanya akan menambah beban biaya perusahaan.
“Selama ini BCMS dianggap sebagai biaya, sehingga perusahaan enggan untuk menerapkannya. Padahal BCMS itu adalah suatu kebutuhan. Apa lagi di sektor kontstruksi,” kata Subhan yang menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Penasehat InCRA ini.
Biasanya, lanjut dia, perusahaan baru akan menganggap keberadaan BCMS penting dan dibutukan setelah mereka mengalami risiko seperti yang ingin diantisipasi melalui BCMS tersebut.
Lebih lanjut Subhan mengungkapkan, dengan BCMS sebetulnya korporasi di sektor kontruksi setidaknya dapat mengantisipasi 5 kemungkinan yang dapat mengganggu keberlangsungan perusahaan atau proyek yang dikerjakan.

Yang pertama, terang dia, mengatasi kendala di pendanaan. Ketatnya syarat pendanaan proyek yang non APBN, dikarenakan keterbatasan anggaran, ini mengharuskan pendana global memastikan pembiayaannya aman dari setiap tahapan siklus proyek
“Dengan ada BCMS, korporasi tentu akan lebih mudah untuk mendapatkan loan dari perbankan atau pendana global untuk proyek mereka,” ujar Subhan.











