Ironi Mega Proyek Cetak Sawah 3 Juta Hektar Vs Hilangnya Lahan Pertanian di Metropolitan Jawa

Table hilangnya lahan pertanian di Metropolitan Jawa/IDEAS

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET  – Peneliti Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS), Sri Mulyani, menyoroti salah satu program utama pemerintahan Presiden Prabowo yaitu megaproyek cetak sawah baru 3 juta hektare di luar Jawa.

Melalui cetak sawah skala besar di luar Jawa ini, Indonesia ditargetkan akan swasembada beras pada 2027, menjadi eksportir beras pada 2028, dan menjadi lumbung pangan dunia pada 2029.

Sri Mulyani mengatakan bahwa proyek ambisius tersebut menyimpan ironi besar karena di satu sisi pemerintah berencana membuka lahan sawah baru, sementara laju alih fungsi lahan sawah secara masif masih terus terjadi, terutama di Jawa yang merupakan lumbung pangan nasional.

“Lahan sawah produktif, terutama di Jawa terus berkurang akibat dari masifnya alih fungsi lahan. Sepanjang 2013-2019, luas lahan baku sawah (LBS) nasional secara resmi berkurang 287 ribu hektare, dari 7,75 juta hektare pada 2013 menjadi 7,46 juta hektare pada 2019,” kata Sri Mulyani dalam keterangan tertulisnya, Senin (03/02/2025).

Dari 7,46 juta hektare LBS pada 2019, sentra sawah nasional terkonsentrasi di Jawa (46,5 persen), diikuti Sumatera (23,5 persen), Sulawesi (13,0 persen), dan Kalimantan (9,7 persen).

Sri menambahkan bahwa lahan pertanian pangan sudah lama menghadapi tekanan alih fungsi lahan yang masif. Lahirnya Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) tidak mampu menurunkan tekanan alih fungsi lahan ini.

“Jawa, yang merupakan lumbung pangan nasional dengan intensitas tenaga kerja yang tinggi, makin terdesak lahan pertaniannya oleh industrialisasi dan urbanisasi,” ujar Sri Mulyani.

Untuk mengetahui besaran dan kecepatan alih fungsi lahan sawah produktif, terutama di Jawa, sekaligus menguji kesahihan data luas LBS 2019, IDEAS melakukan pengukuran luas sawah di wilayah aglomerasi Jakarta di mana tekanan untuk alih fungsi lahan pertanian sangat tinggi.

“Dengan metode digitasi tutupan lahan berbasis citra satelit dari Google Earth yang memiliki resolusi spasial tinggi, kami melakukan proses interpretasi dan digitasi data citra satelit olahan secara on-screen untuk menghasilkan peta tutupan lahan (sawah),” tutur Sri Mulyani.