LinkedIn Perkenalkan Fitur AI Baru untuk Bantu Perekrutan dan Pembelajaran di Indonesia

Foto ilustrasi/net.

Dengan wawasan dari lebih dari 1,1 miliar anggota dan hampir 69 juta perusahaan, laporan perdana LinkedIn Work Cahnge Report menunjukkan bahwa organisasi yang cepat beradaptasi akan memiliki keunggulan kompetitif.

Buktinya, dalam dua tahun terakhir, 51% bisnis global yang telah menerapkan Generative AI (GAI) mengalami peningkatan pendapatan hingga 10% atau lebih.

Namun, meskipun AI mendorong pertumbuhan bisnis di seluruh dunia, tenaga kerja di Indonesia masih kekurangan keterampilan yang dibutuhkan untuk memanfaatkan peluang ini.

Jika investasi dalam pengembangan keterampilan AI tidak segera dilakukan, Indonesia berisiko tertinggal dalam memanfaatkan AI untuk inovasi dan pertumbuhan ekonomi.

Data LinkedIn mengungkapkan kesenjangan keterampilan yang signifikan di Indonesia:

1 dari 2 profesional HR mengatakan bahwa kurang dari setengah pelamar memenuhi semua kualifikasi yang dibutuhkan.

63% profesional HR melaporkan adanya ketidaksesuaian antara keterampilan pelamar dan kebutuhan perusahaan.

Keterampilan yang paling sulit ditemukan di antara kandidat Indonesia meliputi:

– Keahlian AI (45%)

– Keterampilan teknis & IT seperti pengembangan perangkat lunak dan rekayasa (40%)

– Soft skills seperti komunikasi dan pemecahan masalah (32%)

Sebagai solusinya, LinkedIn mendorong model perekrutan berbasis keterampilan (skills-first hiring), di mana kompetensi menjadi prioritas utama dibandingkan latar belakang pendidikan atau pengalaman kerja.

Pendekatan ini terbukti efektif, meningkatkan jumlah kandidat yang memenuhi syarat hingga 9,5 kali lipat dibandingkan perekrutan berbasis pengalaman.

Secara global, setengah dari perekrut di LinkedIn sudah menggunakan data keterampilan untuk mencari kandidat, menandakan pergeseran menuju proses perekrutan yang lebih inklusif dan efisien.

Kebutuhan untuk terus belajar dan meningkatkan keterampilan semakin mendesak. Data LinkedIn menunjukkan 85% profesional HR di Indonesia menetapkan upskilling karyawan sebagai prioritas utama untuk 2025; keterampilan AI (85%) dan soft skills seperti kolaborasi serta growth mindset (84%) menjadi yang paling dibutuhkan.

Perusahaan yang menerapkan perekrutan berbasis keterampilan lebih efektif dalam mencocokkan talenta dengan peran yang tepat, menghasilkan kinerja dan hasil bisnis yang lebih baik.

Pendekatan ini juga membuka peluang yang lebih luas dan inklusif. Bahkan, 92% pemimpin C-suite di APAC lebih memilih kandidat dengan potensi berkembang dan kemauan belajar, dibandingkan mereka yang hanya memiliki pengalaman panjang tetapi kurang fleksibel.

Seiring AI yang terus mengubah pasar kerja, dampaknya terhadap perekrutan dan pengembangan karier tidak bisa diabaikan. LinkedIn berkomitmen untuk mendukung bisnis dan profesional dalam menemukan serta mendapatkan pekerjaan yang sesuai.

Dengan memanfaatkan tools berbasis AI, LinkedIn membantu perusahaan menerapkan perekrutan berbasis keterampilan sekaligus memberikan kesempatan bagi para profesional untuk meningkatkan keterampilan mereka dan beradaptasi dengan perubahan.[zul]

 

Exit mobile version