Sementara banjir menghantui Guizhou, Ibu Kota Beijing diterjang gelombang panas ekstrem dengan suhu mencapai 38 °C.
Pemerintah kota menerbitkan peringatan oranye, menghimbau warga mengurangi aktivitas luar ruangan dan memperbanyak konsumsi cairan. Pekerja konstruksi dipersilakan menghentikan pekerjaan pada siang hari, sedangkan mahasiswa dan pekerja kantoran menyesuaikan jam kerja. Gejala heatstroke menjadi ancaman nyata bagi kelompok rentan.
Fenomena ekstrem ini menambah kekhawatiran tentang perubahan iklim global. Sebagai penghasil emisi CO₂ terbesar, China menegaskan komitmen puncak emisi sebelum 2030 dan netral karbon pada 2060.
Meski masih intensif menggunakan batu bara, Beijing terus menggalakkan energi terbarukan untuk meredam krisis iklim yang kian mendesak.[dit]
